Mesin Baru Bernama Ekonomi Kreatif

Mesin Baru Bernama Ekonomi Kreatif

Dalam peringatan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Selandia Baru, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengikuti forum MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) setelah pada Selasa (3/7) menjadi narasumber dalam sebuah seminar bertajuk “Indonesia – New Zealand 60 years on – Opportunities in the Digital Age,” di Wellington, Selandia Baru.

MIKTA telah menjadi forum konsultasi informal multilateral, yang beberapa waktu menjadi kolaborasi antar regional. Sejak didirikan pada tahun 2013, forum ini cukup unik karena semua anggotanya adalah negara-negara anggota G20.

“Forum ini harus menjadi peluang bagi kita untuk saling belajar dan tumbuh bersama. Kami berkontribusi US $ 5,66 triliun untuk ekonomi internasional, meskipun kami secara ekonomi, sosio-budaya, dan politis sangat beragam,” kata Triawan.

Selama Indonesia menjadi koordinator di MIKTA perhatian terhadap ekonomi kreatif adalah yang utama dengan mengangkat tagline “Fostering Creative Economy and Contributing to Global Peace”.

“Kami percaya bahwa ekonomi kreatif adalah konsep yang tidak terbatas, memotong hambatan geografis, memanfaatkan kemajuan teknologi, mempromosikan kesetaraan dan menghilangkan diskriminasi, dan tidak fokus pada ukuran modal untuk melakukan bisnis,” lanjut Triawan.

Menurutnya, memasuki Revolusi Industri 4.0, di mana teknologi otomatisasi dan interoperabilitas sekarang sudah dekat, peran kreativitas manusia dan modal manusia untuk kegiatan ekonomi menjadi sangat diperlukan.

Ekonomi kreatif menawarkan pendekatan kontemporer terhadap tantangan klasik ketimpangan pendapatan dan pengangguran.

Sementara model bisnis lama berkonsentrasi pada kepemilikan modal dan mekanisme yang kaku, model ekonomi kreatif memungkinkan fleksibilitas modal dan pemanfaatan teknologi universal dan berkonsentrasi pada modal kreatif manusia.

Dalam forum ini Triawan juga menjelaskan sejak dibentuk Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 Bekraf memiliki visi besar untuk menjadikan ekonomi kreatif tulang punggung ekonomi Indonesia di masa depan dan mengembangkan 16 sub-sektor ekonomi

Terutama tiga sub-sektor utama (kuliner, fashion, dan kerajinan) yang menyumbang 77,6% ekonomi kreatif Indonesia, dan tiga sub-sektor prioritas (film, animasi, dan video, aplikasi dan game, dan musik).

Pada 2016 ekonomi kreatif Indonesia telah memberikan kontribusi sebesar Rp. 922,59 triliun (atau US $ 66,61 Miliar), yang menyumbang 7,44% dari PDB Indonesia.

“Ini adalah pencapaian yang sangat menjanjikan. Kontribusi ekonomi kreatif kami terhadap PDB saat ini adalah yang terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan,” jelas Triawan.

Selanjutnya, industri kreatif di Indonesia kini mempekerjakan 16,91 juta penduduk Indonesia atau sekitar 14% dari angkatan kerja nasional yang aktif.

Triawan menjelaskan semua negara MIKTA mengalami praktik yang berhasil dalam menjalankan ekonomi kreatif. “Kita dapat dengan bangga mengatakan bahwa ekonomi kreatif berkontribusi secara signifikan terhadap ekonomi nasional kita masing-masing,” ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana Meksiko telah menjadi produsen video game terkuat di Amerika Latin, didampingi oleh sektor-sektor terkemuka yang sukses dalam desain, media baru, dan audiovisual. Industri kreatif Turki juga muncul, menyumbang US $ 8,58 miliar untuk ekspornya.

Selain itu, Korea Selatan dengan “K-wave”-nya telah berkembang dengan sukses dan secara kontinyu berpengaruh pada budaya pop global, dengan ekspor barang-barang kreatif menyumbang US $ 5,79 miliar kepada perekonomian nasional.

Dan, terakhir, industri kreatif Australia menyumbang lebih dari US $ 90 miliar ke ekonomi setiap tahun dan mempekerjakan sekitar 600.000 tenaga kerja.

Melihat hal tersebut ditengah ketidakpastian ekonomi global yang terus-menerus ini, dengan penurunan komoditas utama seperti minyak dan logam, dunia membutuhkan lebih banyak perspektif dan alternatif untuk mengatasi masalah global ketidaksetaraan pendapatan dan perbedaan kekayaan. Ekonomi kreatif menawarkan solusinya.

Dengan keberhasilan industri kreatif di negara-negara MIKTA, populasi yang berkembang dengan pembangunan manusia yang layak, dan meningkatnya akses teknologi. “Saya memiliki keyakinan kuat bahwa industri kreatif akan menjadi mesin baru kemakmuran ekonomi,” tutup Triawan. (sak)

Bagikan artikel ini