Mimpi Nyata Zara di Negeri Sakura

Mimpi Nyata Zara di Negeri Sakura

Zara Zahrina, salah satu mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berkesempatan mengikuti pertukaran mahasiswa di Universitas Kyoto, Jepang.

Program ini adalah program pertukaran mahasiswa antara Kyoto University dengan mahasiswa dari universitas anggota ASEAN University Network (AUN), salah satunya Unair.

Vokalis band punk Nonanoskins ini mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara negara-negara ASEAN melalui pengembangan sumber daya manusia. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dalam kerja sama pembangunan antar negara ASEAN.

Zara mengatakan, selama satu semester di Universitas Kyoto, banyak pengalaman yang didapat. Terhitung dari Oktober 2016 hingga Maret 2017, ia banyak menjalin persahabatan dengan mahasiswa setempat dan tentunya orang-orang kota Kyoto.

“Sebelumnya saya sama sekali tidak menyangka bisa mendapat kesempatan untuk ikut program pertukaran mahasiswa ini, karena saya daftar di hari terakhir,” ungkapnya seperti dikutip Unair News.

Sejak kecil, Zara memang ingin sekali untuk berkunjung ke Jepang. Kini impiannya itu dapat menjadi nyata. “Jadi sampai sekarang rasanya masih surreal tiap hari bangun tidur terus the realization hits semacam oh iya ini lagi di Jepang ya,” tuturnya bangga.

Zara juga bercerita, tidak ada kiat khusus darinya untuk bisa terbang dan belajar di negeri Sakura, hanya saja ia harus rajin memperbaiki nilai TOEFL, agar sewaktu waktu ketika ada informasi exchange, Zara tidak kesusahan lagi mengejar nilai.

Ia juga mengaku bahwa dengan seringnya melihat dan mencari informasi tentang beasiswa pertukaran mahasiswa, menjadikannya mendapat peluang berangkat ke Kyoto. “Sebenarnya kesempatan itu banyak, hanya saja terkadang kita yang kurang aktif mencari tahu,” ungkapnya.

Selama mengikuti pertukaran pelajar di Universitas Kyoto, Zara mengambil mata kuliah Risk Communication dan Science of Religion. Dari kegiatan tersebut, wirausahawan yang memiliki brand aksesoris ini berharap bahwa koneksi dan persahabatan yang ia jalin selama pertukaran pelajar di sana masih tetap bertahan.

“Karena saya benar-benar senang bisa menimba banyak ilmu dan bertemu dengan orang-orang baru dari beragam latar belakang budaya,” jelasnya mengakhiri. (sak)

Bagikan artikel ini