Minapadi Genjot Produksi Ikan dan Padi

Minapadi Genjot Produksi Ikan dan Padi

Percontohan minapadi kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Food and Agriculture Organization (FAO) di Sukoharjo Jateng pada lahan 18 Ha menunjukkan hasil menggembirakan.

Hasil panen menunjukkan produktivitas padi naik dari rata-rata 7 ton/ha/musim tanam menjadi 9-10 ton/ha/musim tanam. Ini belum dengan tambahan pendapatan dari ikan 1 – 2 ton/ha/musim tanam. Dalam percontohan ini juga digunakan pakan mandiri sehingga menghemat biaya produksi.

Di sisi lain, sistem minapadi juga terbukti mampu meminimalkan risiko serangan hama, pengurangan penggunaan pupuk, serta tidak menggunakan pestisida yang menghasilkan padi organik.

Kotoran dari ikan juga menyuburkan padi, sehingga ada hubungan mutualisme. Beberapa spesies minapadi selain nila juga dapat dikembangkan gurame, lele, udang galah, serta ikan hias sperti koi.

Wajah sumringah ditunjukan Darno, Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki Desa Dalangan. Betapa tidak, semula lahan sawahnya sering kebanjiran sehingga panennya sedikit.

Namun dengan sistem minapadi, produktivitas padi justru meningkat hingga mencapai 11 ton/ha, dari sebelumnya hanya 9 ton/ha.

Di sisi lain, ia mengaku sistem ini mampu menekan biaya produksi. Hal ini karena selama pemeliharaan tidak perlu menggunakan pupuk dan obat-obatan dan kualitas produk juga lebih tinggi karena sifatnya organik.

“Alhamdulillah produktivitas padi naik, kami juga mendapatkan tambahan hasil produksi ikan yang cukup besar yaitu 1 ton/ha,” ungkap Darno.

Dari hasil tersebut mereka mendapatkan keuntungan lebih besar dari sistem biasa. Sebagai gambaran kalau sistem biasa pendapatan Rp38 juta/ha/musim tanam, maka dengan sistem minapadi naik menjadi Rp 53 juta/ha/musim tanam.

Hasil memuaskan juga diakui pembudidaya lainnya, Sahir. Ia mengaku sistem minapadi ini sangat menguntungkan dibanding sistem lainnya. Untuk padi, ia mendapat surplus panen minimal 6 kwintal per hektar, belum lagi dari hasil ikannya.

“Jadi jika dibanding sistem lainnya, nilai tambah keuntungan bersih minapadi ini bisa lebih dari 50 persen,” ungkap Sahir, yang juga ketua Kelompok Ngeneng Sari II di Kecamatan Gatak – Sukoharjo.

Perwakilan FAO Jakarta, Stephen Rudgard menyampaikan bahwa apa yang berkembang di Sukoharjo telah sejalan dengan apa yang ada di tingkat dunia.

Menurutnya, saat ini negara-negara di dunia dituntut untuk mampu mensuplai kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Kebutuhan pangan masyarakat dunia harus tersedia dengan tetap menjamin kualitas dan keamanan pangannya.

Pada awalnya proses produksi budidaya padi ini menggunakan bahan kimia, namun penggunaan bahan kimia justru tidak akan menjamin produksi berlanjut karena cenderung tidak ramah lingkungan.

Oleh karenanya, minapadi ini menjadi solusi tepat dalam memproduksi pangan yang sehat dan ramah lingkungan.

“Di sini peran petani sangat besar dalam memberikan kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan pangan, dan FAO akan terus mensupport pengembangan minapadi ini dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan global,” tutur Stephen.

Lebih lanjut ia juga mengharapkan agar Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dapat menyinergikan kegiatan minapadi dengan kementerian teknis terkait yakni KKP dan Kementerian Pertanian.

Officer FAO Regional Asia Pacific Dr Miao Weimin memberikan apresiasi kepada Pemerintah RI khususnya Ditjen Perikanan Budidaya dan Pemkab Sukoharjo dalam mendukung keberhasilan proyek Minapadi.

Selanjutnya, Miao menyampaikan harapannya agar keberhasilan ini dapat dilanjutkan oleh Indonesia melalui program nasional dalam skala yang lebih besar.

Selain itu, keberhasilan Indonesia dalam proyek minapadi ini diharapkan menjadi contoh bagi Negara lain untuk mendukung FAO dalam menyediakan sumber pangan bagi masyarakat global. (sak)

Bagikan artikel ini