Nayahani, Pegiat Literasi Cilik Sleman

Nayahani, Pegiat Literasi Cilik Sleman

Sore itu di Dusun Ngelo Pendowoharjo Kabupaten Sleman, puluhan anak-anak berkumpul di halaman rumah seorang tokoh masyarakat dusun tersebut. Sebuah motor beroda tiga yang dimodifikasi sebagai perpustakaan keliling tampak terparkir di sebuah tempat yang teduh.

Seorang gadis kecil, Nayahani Imara Wijaya (11) tampak sedang membacakan cerita di depan anak-anak yang berkumpul di halaman tersebut.

Hari itu Naya, panggilan gadis kecil tersebut, sedang membacakan cerita Bubuksah dan Gagangaking, cerita tentang dua anak bersaudara yang akan diterkam harimau, namun selamat berkat kepintaran mereka.

Naya bercerita dengan lincah, ekspresif, dan sesekali diiringi riuh tepuk tangan anak-anak pendengarnya. Di akhir pembacaan dongeng, Naya mengajak anak-anak yang hadir untuk memilih buku, dan segera membaca.

Sudah menjadi kegiatan rutin bagi Naya, menemani ayahnya berkeliling dari kampung ke kampung dengan perpustakaan kelilingnya. Ayah Naya, Nuradi Indra Wijaya (41) yang merupakan pendiri Rumah Pintar Mata Aksara, adalah pegiat literasi yang selama lebih dari sepuluh tahun aktif menumbuhkan budaya membaca di masyarakat.

Naya tidak hanya pandai mendongeng dan bercerita, namun siswi kelas 5 sekolah dasar tersebut juga pandai bermain sulap. Ia pun sering berbagi rahasia sulap kepada anak-anak sebayanya.

Gadis kecil yang sudah lancar membaca sejak usia empat tahun tersebut ingin agar di setiap dusun ada perpustakaan walaupun kecil, sehingga anak-anak tidak harus menunggu datangnya perpustakaan keliling sekadar hanya untuk membaca buku.

“Saya ingin agar di setiap dusun ada pojok baca, jadi tidak usah selalu tergantung dengan perpustakaan keliling. Dengan adanya pojok baca itu pasti akan banyak anak-anak yang dekat dengan buku dan akhirnya suka membaca,” ujar siswi SD Model Ngemplak Sleman tersebut.

Ia juga ingin pemerintah mengimbau masyarakat menyumbangkan buku-buku mereka untuk pojok baca agar koleksi bukunya banyak, sehingga menarik minat anak-anak untuk datang ke pojok baca.

“Sudah kita sampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar ada imbauan kepada para orang tua untuk menyumbangkan buku-buku mereka guna mengisi pojok baca atau taman bacaan,” ujar anak kedua dari dua bersaudara tersebut.

Berbagai prestasi di bidang menulis dan bercerita pernah ia raih. Terakhir Naya hadir mewakili Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam ajang Apresiasi Sastra Siswa Sekolah Dasar yang digelar Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar (PSD) Kemendikbud di Bogor Jawa Barat, 26-28 Oktober 2017.

Di ajang tersebut, Naya meraih Juara I dalam lomba mendongeng. Ia yang hadir ditemani ayahnya tampak bersemangat ketika menerima penghargaan dari Direktur PSD Wowon Widaryat.

Namun bagi Naya, menjadi juara bukanlah hal terpenting yang ingin ia raih dalam sebuah kompetisi. “Bertemu dengan para penulis cilik, para pegiat literasi, mendapat banyak pengalaman adalah yang lebih penting dari sekadar menjadi juara,” kata gadis yang bercita-cita menjadi dokter anak tersebut.

Ia masih terus bersemangat mempelajari hal-hal baru, membaginya dengan anak-anak di sekitar dusunnya. Ia juga akan terus menemani ayah dan ibunya berkeliling kampung ke kampung menumbuhkan kecintaan membaca terutama bagi anak-anak. “Semoga anak-anak Indonesia menjadi anak pembelajar yang haus ilmu pengetahuan, dan awalnya adalah cinta membaca,” pungkasnya. (ist)

Bagikan artikel ini