Nurlinda, Penyuluh Agama di Perbatasan

Nurlinda, Penyuluh Agama di Perbatasan

Nurlinda, adalah satu-satunya penyuluh agama Islam berstatus PNS yang ditugaskan di wilayah Kabupaten Keerom Provinsi Papua. Meski medan tempat ia melakukan penyuluhan dan bimbingan keagamaan Islam sangat sulit dan menantang, tapi ia tetap semangat menjalaninya.

Di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Keerom, Nurlinda tampak sibuk menyiapkan bahan pertemuan dengan Penyuluh Agama Islam Non PNS. Ia masih mengenakan pakaian olahraga. “Ada empat tantangan utama bagi pegawai kami dalam menjangkau wilayah-wilayah pelayanan,” kata Nurlinda, dikutip dari Kemenag.go.id.

Tantangan pertama terkait kondisi geografis. Menurutnya, Kabupaten Keerom sangat luas sehingga butuh waktu cukup lama untuk datang dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.

Tantangan kedua terkait infrastruktur. “Jalan yang harus kami lalui masih banyak yang belum mulus, apalagi jika musim hujan,” terang Nurlinda.

Adapun tantangan ketiga terkait sarana transportasi. Belum ada transportasi umum di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua yang bisa digunakan setiap saat untuk mengantarkan masyarakat dari kecamatan yang satu menuju kecamatan lainnya.

“Di sini tidak ada transportasi umum sehingga pegawai kami yang rumahnya jauh biasanya menunggu mobil tumpangan yang lewat,” tandas Nurlinda.

Dan, tantangan keempat adalah tantangan “zona merah” yang mengharuskan setiap individu senantiasa menyiapkan diri untuk selalu waspada.

Perempuan paruh baya ini mengaku tantangan pekerjaannya semakin terasa tatkala harus memberikan bimbangan keagamaan / mengisi pengajian di tempat relatif jauh.

Salah satu pengalamannya adalah saat mengisi pengajian di kampung yang berjaraknya sekitar 10 km dari rumahnya. Tidak terlalu jauh untuk ukuran di Jakarta.

Namun, kawasan di sana yang masih banyak hutan dan kebun sawit tentu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, tidak ada transportasi umum sehingga dia haru menggunakan ojek untuk pulang, sementara waktu sudah menjelang magrib.

“Sepanjang jalan saya berdoa, semoga tukang ojek tidak memiliki niat jahat terhadap saya,” gumam Nurlinda.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi Nurlinda tidak mengendurkan semangatnya untuk terus mengabdikan diri sebagai Penyuluh Agama di wilayah perbatasan.

Sebagai penyuluh agama PNS, tugas Nurlinda cukup banyak, namun yang utama tentu memberikan bimbingan keagamaan melalui majelis taklim, baik di masjid, musholla atau di rumah.

Nurlinda juga memberikan nasihat perkawinan, mengurusi jenazah perempuan, manasik haji, mengurusi zakat, wakaf pembinaan di TPQ dan pembinaan remaja masjid.

Nurlinda juga dipercaya menjadi pembina organisasi Pemuda Pelajar Islam (PPI) dan Forum Remaja Masjid (FORMASI) di Kabupaten Keerom. Dalam posisinya sebagai Penyuluh Agama PNS, ia memegang jabatan sebagai Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Keerom.

Nurlinda mengaku bersyukur telah menjadi Penyuluh Agama PNS. Sebab, sampai saat ini di Kementerian Agama belum ada lagi pengangkatan pegawai untuk penyuluh agama yang berstatus PNS.

Sejak tahun 2014 lalu, Nurlinda dibekali sepeda motor dari kantor dan itu sangat membantu dirinya dalam melaksanakan tugas.

“Saya mengidam-idamkan pelatihan atau apa namanya, untuk dapat menambah ilmu pengetahuan dalam melancarkan tugas-tugas. Sebab, kebanyakan masyarakat berharap penyuluh tahu banyak hal dan bisa dijadikan tempat bertanya,” katanya.

Beratnya tantangan menjadi abdi negara bidang keagamaan di perbatasan juga diungkapkan Kankemenag Kabupaten Keerom Karel F Mambay. Menurutnya, abdi negara di wilayah perbatasan memang harus menjunjung kewaspadaan diri yang tinggi.

Sebab, wilayah perbatasan sangat rentan dimasuki pengaruh negatif negara asing, baik dari budaya, agama, dan ras. “Wilayah kami masih termasuk zona merah, sehingga harus selalu waspada dalam kondisi apapun,” kata Karel F Mambay. (ist)

Bagikan artikel ini