Nurtanio Siap Jelajahi Pedalaman

Nurtanio Siap Jelajahi Pedalaman

Usai resmi diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo, pesawat N219 ternyata langsung diminati banyak negara. Salah satu yang berminat untuk membeli pesawat rancangan anak bangsa ini ialah pemerintah Meksiko.

Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Andi Alisjahbana, menyebutkan, selain Meksiko, banyak negara lain yang tertarik dengan produk hasil kerja sama antara PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu.

“Dari luar juga ada, tapi bukan negara–negara Eropa atau Amerika, melainkan negara–negara Afrika, Asia seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar juga tertarik,” kata Andi di Jakarta.

Meski banyak peminat N219, Andi mengaku, PTDI belum menawarkan ke banyak negara. Dia mengaku saat ini lebih ditawarkan di dalam negeri. “Saat ini belum kami tawarkan karena kita lebih fokus dalam negeri aja begitu banyak. Ini dirancang untuk Indonesia dulu.”

Pesawat terbang N219, dikatakan sejak awal dirancang khusus untuk daerah pegunungan Papua. Ia diharapkan dapat mendukung program Jembatan Udara.

Pasalnya, moda transportasi udara ini dapat menjangkau daerah dengan kondisi georafis berbukit–bukit dan tidak memerlukan landasan berukuran besar, cukup landasan pacu sepanjang 500 meter saja.

Hebatnya lagi, pesawat ini dikatakan akan mudah mendarat di landasan yang tidak beraspal, atau bahkan berbatu sekalipun.

Pesawat N219 pun diyakini dapat menjadi solusi untuk membuka aksesibilitas dan konektivitas wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar seperti di pegunungan Papua dan Papua Barat.

Pesawat hasil karya anak bangsa ini menggunakan dua mesin turbodrop yang mengacu pada regulasi internasional. Dapur pacu N219 berupa sepasang mesin Pratt and Whitney ini mampu terbang dengan kecepatan hingga 213 knots atau 394,5 km per jam.

Andi mengungkapkan, penjualan secara komersial baru bisa dilakukan pada 2019 setelah prototipe N219 mendapatkan type certificate (TC) dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan dan seusai terbang selama 300 jam.

“Kita belum bisa ngasih harga tepatnya berapa. Kita baru bisa jual mungkin 2019, sesudah dapat sertifikasi.”

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pun mengapresiasi PTDI dan Lapan yang bekerja sama dalam membangun N219.

Menurut dia, Nurtanio akan digunakan untuk moda transportasi penyambung tol laut guna mengangkut logistik dan penumpang yang tinggal di daerah pedalaman. “Pengembangan pesawat ini sejalan dengan program pemerintah yang tertuang dalam Nawa Cita,” kata Airlangga. (mi)

Bagikan artikel ini