Pameran Bali : Pewaris Majapahit di Jakarta

Pameran Bali : Pewaris Majapahit di Jakarta

Galeri Indonesia Kaya (GIK) bekerja sama dengan Museum Gubug Wayang yang didirikan oleh Yensen Project menyelenggarakan pameran Bali: Pewaris Majapahit yang menampilkan delapan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur yang pernah berdiri sekitar 1293 hingga 1500 M dan dianggap sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.

Walaupun merupakan kerajaan Hindu, penduduk Majapahit terdiri atas berbagai etnis, ras, dan agama namun tetap rukun bersatu di bawah Surya Majapahit.

Berbicara mengenai Bali, tentu tidak lepas dari Kerajaan Majapahit. Konsistensi Bali dalam menjaga adat istiadat, kearifan lokal, dan karakter kebudayaan leluhur ini menjadikan Bali sebagai benteng terakhir kebudayaa Majapahit yang masih dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa Bali merupakan pewaris Majapahit di era masa kini.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui informasi dan fakta-fakta tentang hal. Untuk itu, diadakan pameran benda-benda koleksi yang sudah dikumpulkan selama beberapa tahun ini agar dapat berbagi pengetahuan dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

Pameran ini berlangsung hingga pekan depan di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia lantai delapan, Jakarta. Berikut delapan peninggalan Kerajaan Majalahit yang dipamerkan di Pameran Bali: Pewaris Majapahit.

Agastya (Syiwa Mahaguru)
Mahaguru (Resi) yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada manusia. Tanda-tanda kedewaan (laksana) dari arca ini berupa trisula dan kamandalu, dengan ciri-ciri fisik: memiliki 2 tangan, bertubuh yang subur dan perut gendut berkumis dna berjanggut lebat. Sampai hari ini Agastya merupakan dewa yang masih dipuja di Bali.

Arca Wabita
Arca wnita cantik yang tengah duduk dengan sikap resmi ini menggambarkan seorang bangsawan Kerajaan Majapahit. Rambutnya tertata dengan rapi dan mengenakan hiasan telinga yang besar. Pada lehernya terdpat alung yang besar dengan liontin yang tampa mewah, sementara pada pergelangan tangannya pun terdapat gelang yang besar pula.

Arca Lelaki
Arca ini menampilkan seorang punggawa kerajaan dalam sikap tengah menghadap seorang pembesar di paseban. Rambutnya ditata rapi dan mengenakan kain. Ia juga mengenakan perhiasan berupa timang yang besar, sementara pada kedua tangannya terdapat gelang.

Kendi Susu
Salah satu peralatan sehari-hari yang banyak diproduksi pada zaman Majapahit dan merupakan perabot penting dalam rumah tangga. Bentuknya yang bundar membuktikan bahwa proses pembuatannya menggunakan alat ‘subang pelarik’ yang sebenarnya telah dikenal di nusantara sejak berabad-abad sebelumnya.

Betok Majapahit
Betok ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Pada umumnya, betook memiliki fungsi ‘tindih’ yang artinya melindungi. Dalam dunia keris, betook merupakan pusaka untuk melindungi pusaka yang lainnya.

Keris Raja Balia
Keris milik salah satu raja di Pulau Dewata ini merupakan saksi bahwa raja ikut andil dalam pelestarian budaya. Keris ini digunakan oleh Tjokorda Gde Raka Soekawati di masa mudanya semasa ia menjadi pangeran bernama Anak Agung Rama Dalem.

Perhiasan Terakota
Ini merupakan perlengkapan upacara dalam bentuk kalung dengan biji-bijinya yang besar berbentuk segi empat.

Di masyarakat, kalung seperti ini berfungsi sebagai perhiasan yang dipakai pada kesempatan tertentu saja, misalnya pada saat upacara akhil baligh seorang gadis dan juga untuk disertakan dalam penguburan seseorang.

Perhiasan Manik-Manik

Perhiasan ini sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah oleh masyarakat dan hingga saat ini kerap kita jumpai perhiasan dengan model yang sama yang digunakan masyarakat masa kini. (ist/suara.com)

Bagikan artikel ini