Pelari Kenya Juara Lagi Banyuwangi Run

Pelari Kenya Juara Lagi Banyuwangi Run

Sebanyak 1.474 pelari dari dalam dan luar negeri ikut meramaikan Banyuwangi International Run 2016. Ajang tahunan ini dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pada Minggu pagi (9/10). Juga hadir Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

“Event ini sebagai upaya mendorong ekonomi kreatif di berbagai bidang. Yang semua ini tentu ujungnya untuk peningkatan perekonomian warga,” ujar Bupati Anas yang sukses menyelenggarakan event-event untuk menarik wisatawan ke daerahnya.

Dari 1.474 peserta itu, ada sejumlah pelari internasional yang ikut ambil bagian, antara lain, tiga pelari asal Kenya yakni Denis Isika, Muindi Unesmus, dan David Kibei.

Selain dari Kenya, pelari dari Prancis, Thailand, dan Malaysia juga turut serta. “Pelari nasional, seperti Yulianingsih, Acong, Ester Sunah, dan Saiin Alim juga berlaga,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi.

Yulianingsih adalah peraih medali perak lari 300 meter dan Acong peraih medali emas 3.000 steps chase PON Jabar.

Pelari asal Kenya, David Kipkirui Mutai (30), keluar sebagai juara. Ini kedua kalinya David juara di kategori 10K. David menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 31 menit 57 detik. Pelari Kenya lainnya, Karega Samson, juara kedua dengan waktu 32 menit 3 detik. Event international ini diikuti empat pelari asal Kenya.

Sedangkan di kategori women competition 10K ini dimenangi pelari nasional Yulianingsih, dengan catatan waktu 39 menit 14 detik.

David mengatakan, sangat senang bisa ikut berlomba dan menjadi jawara lagi di Banyuwangi International Run.

“Senang banget menang hari ini, karena ini kemenangan yang kedua, setelah tahun lalu juga menyabet posisi pertama di Banyuwangi Run. Cukup panas tapi menyenangkan. Saya senang di Banyuwangi,” kata David.

David yang juga seorang pelari profesional ini mengatakan kedatangan kali kedua ini memang membawa target untuk menang.

“Ikut even ini memang targetnya menang. Dan menurut saya tahun ini perlombaannya lebih kompetitif,” ujarnya. Sebelumnya David sudah mengikuti berbagai lomba marathon di tingkat Asia dan beberapa kali juga pernah mengikuti lomba lari di Indonesia.

Selain diikuti pelari profesional, Banyuwangi International Run juga diikuti mereka-mereka yang hobi lari, salah satunya adalah Iwan Pitono yang tergabung dalam Seng Penting Gaya (SPG) Runner Surabaya. Iwan hadir bersama 34 rekannya dari berbagai kota.

“Saya dengar dari teman yang dahulu ikut kalau ini penyelenggaraan di Banyuwangi ini terorganisasi dengan baik. Selain itu, event ini sangat bagus dan medalinya juga lumayan. Maka, kami ramai-ramai ikut di sini. Kami ada bawa tim perempuan, juga anak,” katanya.

Menurut dia, Banyuwangi International Run 2016 terbilang menarik karena rutenya melewati sejumlah lokasi wisata di kabupaten berjuluk ‘The Sunrise of Java’ ini, salah satunya adalah Pantai Boom.

Banyuwangi International Run 2016 melombakan empat kategori, yakni 10 km Open, 10 km Master (kelompok usia 40 tahun ke atas), 5 km Open, dan 5 km pelajar SD/MI Beregu, dengan hadiah total senilai Rp 160 juta.

Kompetisi lari ini juga menjadi kesempatan bagi generasi pelari muda Banyuwangi untuk menjajal kemampuannya. Sejumlah siswa turut mengikuti lomba ini.

Salah satunya adalah Jonathan Lucky yang mengatakan sangat beruntung Banyuwangi memiliki even semacam ini. Menurut siswa kelas 6 SDN Model Banyuwangi ini, ajang ini bisa menjadi pelecut prestasinya.

“Senang sekali Banyuwangi ada even ini. Selain saya bisa tahu kemampuan saya dibanding peserta lain, saya senang juga bisa bertemu pelari-pelari asing yang kuat,” ujar Lucky yang mengikuti kategori lari beregu bersama 20 siswa lainnya. Lucky sebelumnya pernah menjadi juara 1 lari estafet Unesa Cup 2015.

Selain itu, sejumlah wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Banyuwangi juga turut ambil bagian menjadi peserta pada ajang lari yang digelar kali kedua ini.

Ludovic Malpel, wisatawan asal Perancis yang menjadi peserta, sempat menuturkan awal ketidak sengajaannya mengikuti even ini.

“Beberapa hari lalu saya ke Gunung ijen. Dalam perjalanan saya melihat banner Banyuwangi Run, langsung saja saya daftar. Dan saya sangat menikmati di sini. Saat lari pun saya nikmati meski panas,” ujar Malpel yang merupakan pelari amatir di negaranya.

Malpel pun mengakui penyelenggaraan kompetisi lari di Banyuwangi ini sangat terorganisir dengan baik. “Tidak kalah juga dengan yang diselenggarakan di kota-kota negara saya,” puji Malpel.

Wawan Yadmadi mengatakan, lomba lari ini merupakan implementasi dari konsep pariwisata berbasis olahraga (sport tourism) yang terus dikembangkan Banyuwangi.

Lomba lari ini melengkapi pengembangan sport tourism yang telah dilakukan Banyuwangi sebelumnya, di antaranya lewat International Tour de Banyuwangi Ijen, International BMX Competition. Menurut Wawan, olahraga lari tengah menjadi tren selain bersepeda.

Ajang Banyuwangi International Run mengajak pesertanya berlari dan menikmati kebudayaan sekaligus keindahan Banyuwangi. Selama lima tahun terakhir Banyuwangi gencar mempromosikan kepariwisataan untuk menjadi salah satu destinasi baru untuk wisatawan dalam maupun luar negeri.

Tak tanggung-tanggung, dari wisata pantai, gunung berapi, hingga wisata hutan hujan tropis, ada di Banyuwangi. Ditambah dengan festival yang diadakan sepanjang tahun dengan menampilkan berbagai ciri khas lokal membuat Banyuwangi semakin dikenal di kalangan wisatawan. (sak)

Bagikan artikel ini