Pemprov Jatim Perbanyak Dokter Gigi

Pemprov Jatim Perbanyak Dokter Gigi

Komitmen Pemprov Jatim memperbanyak kuantitas dokter gigi dilakukan dengan cara kerjasama dengan perguruan tinggi di Jawa Timur. Salah satunya dengan Universitas Airlangga (Unair) khususnya Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) sebagai institusi penghasil dokter gigi dan stakeholder.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jatim Drs H Saifullah Yusuf saat membuka Airlangga International Dental Expo (Aidentex) di Dyandra Convention Centre, Surabaya, Kamis (20/10). “Indonesia masih kekurangan tenaga profesional dokter gigi. Termasuk Prov Jatim,” aku Gus Ipul panggilan akrabnya.

Dengan jumlah penduduk sekitar 38 juta jiwa hanya sebanyak 4.100 dokter gigi yang terdaftar di Jatim. Bearti rasionya 1 dokter gigi untuk 10 ribu penduduk. “Angka itu memang sudah sesuai standar. Tapi penyebarannya belum merata,” ungkapnya mengurai letak kekurangan yang dimaksudkan.

Dikatakan, sebagian besar dokter gigi yang ada di Jatim menumpuk di kota-kota besar. Misalkan, Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Jember. Bahkan, menurut data yang ada, lebih dari 40% dokter gigi berada di Surabaya. Selain itu, dari 960 Puskesmas di Jatim masih ada 152 Puskesmas yang belum memiliki dokter gigi.

“Padahal menurut Permenkes RI No 75 Thn 2014 tentang Puskesmas, setiap Puskemas harus memiliki minimal seorang dokter gigi. Karena jika tidak terpenuhi, akan menyulitkan proses akreditasi Puskesmas itu sendiri,” terangnya.

Kondisi sumber daya manusia Indonesia, lanjut Gus Ipul, khususnya jumlah dan persebaran dokter gigi di Jawa Timur menjadi tantangan pemerintah dan profesi dokter gigi. Satu sisi pemerintah harus merancang penapisan dokter gigi asing yang akan masuk ke Indonesia (non tax barrier).

Di sisi lain pemerintah dan organisasi profesi dokter gigi harus secepat mungkin membuat lompatan peningkatan kompetensi dokter gigi Indonesia agar dapat bersaing dengan dokter gigi asing. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. “Lompatan kompetensi dokter gigi ini dapat dilakukan melalui transfer pengetahuan dan transfer teknologi kedokteran gigi,” ungkapnya.

Ditambahkan, para pengguna tenaga kesehatan asing wajib mempunyai dan melakukan perpanjangan RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing) beserta ijin memperkerjakan tenaga kerja asing (IMTA) sesuai UU Ketenagakerjaan. “Sejauh yang kami ketahui hanya Provinsi Jatim yang mempunyai Perda Tenaga Kesehatan di Indonesia,” imbuhnya.

Untuk itulah, Gus Ipul mengaku mendukung sepenuhnya penyelenggaraan AIDENTEX 2016. Sebuah konsep baru pameran alat dan bahan kedokteran gigi terbesar di Indonesia. Pameran yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia ini digagas dan diselenggarakan FKG Unair. “Kegiatan positif ini adalah bukti nyata geliat dokter gigi Jawa Timur sebagai upaya memperkuat barisan professional Indonesia dalam berkompetisi di Era MEA,” pungkasnya.

Dekan FKG Unair Dr drg R Darmawan Setijanto mengatakan idealnya dokter gigi di Jatim rasionya 1 dibanding 6 ribu penduduk. Karena jika tidak ada dokter gigi maka bukan hanya kuratifnya saja yang tidak tertangani. Namun preventifnya juga tidak tertangani.

Selain itu dokter gigi yang kumpul di kota besar harus ditingkatkan kompetensinya, agar bisa bersaing dengan datangnya dokter gigi asing. “Sebagai Fakultas yang mencetak dokter gigi kami harus mampu mendidik agar mampu berinovasi dan melayani semua lapisan masyarakat,” katanya. (sak)

Bagikan artikel ini