Penari Asing di Festival Sego Lemeng
SENI BUDAYA

Penari Asing di Festival Sego Lemeng

Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek yang berlangsung di Desa Banjar, Kecamatan Glagah Banyuwangi, semakin meriah dengan kehadiran para peserta pertukaran budaya asal Filipina dan Korea Selatan.

Tak sekedar mengikuti acara yang menyuguhkan kuliner khas Desa Banjar pada 25-26 Agustus itu, ke-38 peserta dari dua negara itu juga turut unjuk gigi dengan menampilkan folklore (cerita rakyat) lewat tarian.

Diawali dengan penampilan 20 delegasi asal Filipina. Anak-anak muda yang tergabung dalam Salinggawi Dance Troupe, Universitas Santo Tomas, Filipina itu menampilkan 3 tarian adat.

Ada beberapa property menarik yang mereka bawa, seperti bambu, gerabah dari ukuran kecil hingga besar, dan gelas berisi minuman bersoda.

Di tarian pertama, dua orang laki-laki dan perempuan menari sambil berdiri di atas bambu. Dua bilah bambu diangkat di atas pundak rekannya, kemudian sang penari menaikinya. Masing-masing penari berdiri di dua bilah bambu yang berbeda. Mereka menari dengan penuh konsentrasi. Fokus terhadap gerakannya dan fokus agar tidak terjatuh dari bambu.

Tarian kedua pun tak kalah menarik, dimana mereka membawa gerabah yang disusun tinggi di atas kepalanya, namun mereka tetap bisa menari dengan lincah. Dan tarian ketiga pun juga unik, mereka meletakkan gelas berisi minuman bersoda di atas kepalanya.

Dengan kostum jenis longdress warna-warni yang sangat lebar, gerakan tari mereka yang berputar-putar terlihat indah seperti payung yang terbuka lebar.

Usai penampilan delegasi Filipina, 17 penari asal Korea Selatan pun juga membawakan tarian rakyat Korea yang sangat populer, yakni tari kipas. Para wanita yang tergabung dalam Yang Chan Hee Dance Company itu tampil dalam balutan busana khas wanita korea serupa kimono dengan sanggul cantik di kepalanya.

Di tarian lainnya, mereka juga membawa drum kecil lengkap dengan pemukulnya. Menari sambil bernyanyi. Kostum warna-warni yang mereka kenakan dengan banyak gerakan berputar-putar yang mereka lakukan, terlihat sangat cantik.

Mendapatkan sajian tarian unik dari negara tetangga ini praktis menarik perhatian para penonton. Mereka tak henti mengabadikannya dengan kamera handphone masing-masing. Decak kagum dan tepuk tangan juga kerap mereka berikan saat para penari tersebut memberikan gerakan-gerakan yang di luar dugaan.

“Bagus banget tarian-tariannya. Biasanya kita disuguhi tarian asli Banyuwangi, kali ini kita jadi tahu budaya dari negara tetangga. Semuanya bagus dan menarik,” ujar Arief, salah satu warga Desa Banjar.

Kedatangan para duta budaya asal Korea Selatan dan Filipina ini diinisiasi oleh orgainisasi penyelenggara festival rakyat internasional (Council International Organization Folklore Festival /CIOFF) – Indonesia.

Penanggung jawab Festival Committee CIOFF Indonesia, Amar Aprizal mengatakan event ini untuk menjembatani kebudayaan antar negara. “Kami menggelar ini untuk menjembatani kebudayaan antar negara.

Karena kebudayaan itu juga bagian dari misi perdamaian dunia. Manfaatnya banyak sekali bagi rakyat. Salah satunya bisa memotivasi mereka untuk terus melestarikan memunculkan kesenian lokal yang mereka miliki,” tutur Amar.

Tiap tahunnya, CIOFF punya program pertukaran budaya antar negara (cross culture) lewat folklore meeting, workshop, dan folklore festival yang di dalamnya ada folk game, folk music, dan folk dance.

Didirikan pada tahun 1973 di Prancis, CIOFF sebagai lembaga swadaya masyarakat yang concern di bidang seni budaya ini, kini sudah beranggotakan 122 negara.

Mereka terbagi atas 7 sektor, yaitu sektor Asia Pasifik, Amerika Latin, Amerika Utara, Eropa, Eropa Timur, Afrika, serta sektor Afrika Utara dan Timut Tengah. Di Indonesia sendiri, CIOFF Indonesia sudah menyelenggarakan program ini selama beberapa kali di berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Aceh dan Kutai Kartanegara.

Amar mengaku kedatangannya ke Banyuwangi untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Banyuwangi untuk penyelenggaraan festival folklore.

“Kami banyak mendengar tentang Banyuwangi yang merupakan the City of Festival. Jadi ini merupakan test case untuk menjajaki kemungkinan Banyuwangi sebagai tempat penyelenggaraan International Floklore Festival,” beber Amar. (sak)