Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium

Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium

Melalui Indonesian Youth Conference on Sustainable Development (IYCSD) 2017 di Yogyakarta, mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menyumbangkan gagasan inovatifnya.

Tim ini menggagas pengembangan material ortopedi untuk memperbaiki patah tulang berbasis magnesium. Berkat karya tersebut, tim yang tediri dari dua mahasiswa itu berhasil mengantongi juara pertama beberapa waktu lalu.

Adalah Moh Mualliful Ilmi dan Denny Okta Kusumawardhana yang berhasil berjuang sejak tahap pengumpulan abstrak hingga lolos menjadi salah satu finalis. “Ada empat kategori yaitu kesehatan, sains dan teknologi, agroteknologi dan sosial humaniora. Karya kami termasuk dalam kategori sains dan teknologi,” ungkap Moh. Mualliful Ilmi, ketua tim.

“Kami berusaha mengembangkan material ortopedi yang berbasis magnesium. Selama ini alat-alat ortopedi dibuat dari alloy (perpaduan logam, red), titanium dan platina,” ungkap pria yang akrab disapa Ilmi itu kepada ITS Online.

Tetapi logam-logam tersebut sulit terdegradasi dan dapat menjadi racun jika larut dan bebas ke dalam tubuh dalam jumlah besar. Alat ortopedi sendiri merupakan alat fiksasi patah tulang yang biasanya dipasang di tulang yang patah agar mengalami penyembuhan.

Selain itu dalam karya ini, Ilmi juga merancang metode produksi magnesium yang ramah lingkungan. Menurutnya, selama ini produksi magnesium selalu menggunakan proses down yang mencemari lingkungan karena perlu penggalian atau penambangan yang merusak lingkungan dan mengemisikan CO2.

“Sedangkan kami menggunakan metode elektrolisis langsung, sehingga cukup pakai energi listrik saja. Sedangkan magnesium diperoleh dari air laut,” tutur pria yang menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia (Himka) itu.

Ditelusuri lebih lanjut, ide tersebut ternyata terinspirasi dari pengalaman Ilmi sendiri yang pernah mengalami operasi tulang. Kegiatan operasi tersebut mengharuskan tulangnya harus dipasang implan dan membutuhkan biaya besar untuk mengambilnya.

“Akhirnya saya berkeinginan untuk mencari potensi material pengganti yang dapat terdegradasi tanpa pengangkatan dan dapat disintesis secara ramah lingkungan,” ungkap Ilmi.

Walaupun sukses mengantongi juara satu, Ilmi sempat mengalami hambatan. Konferensi tersebut ternyata berskala internasional karena pesertanya juga berasal dari peserta summer camp di Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Sehingga mendadak harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Awalnya merasa sangat gugup karena harus latihan dalam waktu singkat,” ungkapnya berkisah. Dan uniknya lagi, kebanyakan peserta dari kategori sains dan teknologi ternyata mahasiswa S2.

Meskipun demikian, keduanya tetap bisa menjadi juara satu dalam kategori sains dan teknologi. Ilmi dan tim menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang mendukungnya hingga membawa harum nama ITS di kancah internasional.

“Kami mendapat banyak dukungan bantuan dana dari IKOMA dan Departemen Kimia. Selain itu, orang tua juga selalu berharap saya selalu meraih prestasi,” pungkasnya berterima kasih. (its)

Bagikan artikel ini