Perempuan Penghayat Komit Kebangsaan

Perempuan Penghayat Komit Kebangsaan

Setelah Deklarasi Nasional pada tahun 2017, untuk pertama kalinya Puan Hayati menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas), pada 12-13 Mei 2018 lalu, di Hotel Aria Centra Surabaya.

Rakernas membicarakan agenda-agenda penguatan kapasitas perempuan Penghayat Kepercayaan dalam kebangsaan dan dalam pelestarian nilai-nilai budaya luhur spiritual.

Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Umum Puan Hayati Nasional menyatakan bahwa rakernas telah merumuskan agenda organisasi untuk meneguhkan sikap dan komitmen pada kebangsaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kebutuhan peran tersebut telah menyatakan diri dalam tragedi bom di Surabaya pagi ini akibat lemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai warisan para pendiri bangsa dan leluhur kita,” ungkapnya dengan mimik sedih.

Rakernas juga telah merumuskan hal terkait eksistensi perempuan Penghayat Kepercayaan, terutama pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pencantuman identitas Kepercayaan pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk.

Berbagai perkembangan aktual tersebut telah menjadi faktor yang sangat menentukan bagi perlunya pemupukan identitas perempuan Penghayat, sekaligus menjadi tantangan yang besar untuk semakin meneguhkan komitmen perempuan Penghayat terhadap kebangsaan Indonesia.

Inilah salah satu pokok pikiran yang disampaikan oleh Eva K Sundari dalam sesi Pleno terakhir Rakernas tersebut.

“Puan Hayati hadir pada momen yang tepat, di tengah tantangan kebangsaan dan Bhinneka Tunggal Ika yang tengah diserang oleh kekuatan radikalisme dan terorisme. Puan Hayati harus berkiprah karena bangsa sudah memanggil,” paparnya.

Eva Sundari, Ketua Kaukus Pancasila mengajak seluruh pengurus dan anggota Puan Hayati perwakilan 10 propinsi tersebut untuk melakukan hening cipta bagi para korban aksi terorisme yang menyerang tiga gereja di Surabaya.

Hening cipta tersebut merupakan respon terhadap Dian Jennie T, Ketua Puan Hayati, yang sebelumnya menyampaikan kegusarannya. “Puan Hayati mengutuk keras terjadinya insiden berdarah hari ini, yang mencabik nilai nilai kebangsaan dan keberagaman dan mencederai nilai KeTuhanan dan kemanusian.

Beberapa tokoh yang menghadiri Rakernas Puan Hayati adalah Ir. Drs Nono Adya Supriyato, MM MT (Direktur Direktorat Penghayat Kepercayaan dan Tradisi), Sri Hartini, MSi (Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan), Gubernur Jawa Timur, representasi Komnas Perempuan. (sak)

Bagikan artikel ini