Perjuangan Warga Mendapatkan BBM

Perjuangan Warga Mendapatkan BBM

Masyarakat Desa Busua, Kecamatan Kayoa Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara mengakui kesulitan dan membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebelum beroperasinya lembaga penyalur program BBM Satu Harga yang dicanangkan Pemerintah di tempat tersebut.

Warga bahkan terkadang membeli BBM dari Pulau Bacan, yang jaraknya dari Kayoa Barat ditempuh dengan perjalanan laut selama 4 jam.

“Sebelumnya, kami mendapatkan (BBM) di Bacan seharga Rp 9.000 per liter. Kalau dijual di sini (Kayoa Barat) bisa Rp 12.000 per liter untuk Premium. Harga itupun kalau stoknya banyak,” ujar mantan Kepala Desa Busua, Ikram Syamsudin, saat ditemui tim Esdm.go.id di Halmahera Selatan.

Bahkan Ikram menambahkan harga tersebut akan melonjak lebih tinggi apabila stok BBM di Pulau Bacan kian menipis. Meski begitu, ia mengakui SPBU Bacan tidak membatasi pembelian dari masyarakat luar Bacan. “Yang penting siapa cepat, dia dapat,” ungkapnya.

Untuk pergi ke Kecamatan Bacan sendiri, masyarakat harus menempuh waktu kurang lebih selama 4 jam melalui jalur laut.

“Jauh juga perjalanan naik motor kayu. Kalau berangkat pagi jam 8 sampai di sana jam 11 atau 12,” jelas Meri (43 tahun) yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan.

Selain itu, biaya perjalanan ke Pulau Bacan menghabiskan uang sebesar Rp 100.000. “Itu punya tiket Rp 100.000 per kepala,” imbuh Meri.

Sementara itu, Anwar (40 tahun) mengaku hampir 3/4 pendapatan harian hasil menangkap ikan hanya untuk membeli BBM. “Penjualan ikan sekisar Rp 13.000 per kilo (kg). Rata-rata dapet ikan 8 kilo. Hanya sisa Rp 40.000 setelah beli BBM,” jelas Anwar.

Di sisi lain, mantan Kepala Desa, Ikram juga menceritakan kronologi berdirinya SPBU Kompak di Bosua yang merupakan inisiatif dirinya saat masih menjabat menjadi kepala desa. “Saat itu, ada petugas mengurusi pembebasan lahan terus kami hibahkan lahan (SPBU) supaya membantu warga,” tuturnya.

Hal itu diakui oleh pemilik SPBU Kompak, Irsan (35 tahun). “Pemilihan di sini (Busua) atas inisiatif kepala desa di sini. Kenapa di sini karena ada beberapa desa yang mudah menjangkau soalnya di tengah,” jelasnya.

Nantinya, SPBU Kompak akan melayani 8 (delapan) kecamatan di wilayah tersebut, yaitu Kayoa, Kayoa Barat, Kayoa Selatan, Kayoa Utara, Makian, Makian Barat, Kasiruta Timur dan Kasiruta Barat. Proses pendirian SPBU Kompak sendiri hanya memakan kurun waktu setahun. Namun pembangunannya cukup lama karena pasokan bahan material dari Ternate terkendala faktor geografis.

Antusias Sambut BBM Satu Harga
Masyarakat menyambut antusias atas beroperasinya SPBU Kompak di desa mereka. SPBU tersebut merupakan penugasan Pemerintah kepada PT Pertamina dalam menjalankan program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga.

“Dengan adanya kedatangan fisik SPBU, saya senang karena bisa membantu Desa Busua. Alhamdulillah kami sudah membuktikan bahwa stok BBM sudah ada di Busua,” ujar Ikram Syamsudin salah seorang tokoh Masyarakat Desa Busua.

Senada dengan Syamsudin, Medi (43 tahun) juga mengakui realisasi BBM Satu Harga di Busua memberikan dampak positif.

“Merasa terbantu toh. Kalau kemarin beli satu liter, ini bisa beli dua liter,” katanya sesaat sebelum peresmian BBM Satu Harga di SPBU Kompak.

Sementara itu, warga Busua lain mengaku perekonomian keluarga mereka menjadi lebih ringan dengan adanya program BBM Satu Harga.

“Terasa ringan dengan adanya harga ini,” ungkap Anwar (40 tahun) yang bekerja sebagai nelayan. Nantinya, ia senang karena sisa uang pembelian BBM dapat digunakan untuk kebutuhan pendidikan anaknya.

Rata-rata masyarakat Busua membutuhkan 5-10 liter tiap hari untuk berlayar. Sebelumnya, mereka menggunakan BBM jenis Premium sebagai bahan bakar kapal, karena harganya lebih murah dari solar.

Solar sendiri digunakan untuk penerangan (genset). Dengan adanya program BBM Satu Harga, masyarakat Busua mampu menghemat biaya sekitar Rp50.000 per harinya dengan asumsi pembelian BBM sebelumnya Rp15.000 per liter untuk jenis Premium.

Realisasi BBM Satu Harga di SPBU Kompak, Kayoa Barat merupakan titik ke-23 dari 54 titik yang akan dibangun oleh Pemerintah di tahun 2017. Secara total, Kementerian ESDM akan menyelesaikan 150 titik program BBM Satu Harga hingga tahun 2019.

Kuota SPBU Kompak sendiri dipasok oleh Pertamina sebesar 75 KL/bulan untuk jenis Premium dan 25 KL/bulan (Solar) dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Ternate dan TBBM Labuha, Bacan. (sak)

Bagikan artikel ini