Pertanian Leading Sektor Pembangunan

Pertanian Leading Sektor Pembangunan

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi menegaskan sektor pertanian memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap pencapaian target dan tujuan Program Sustainable Development Goals (SDGs) yakni untuk kesejahteraan manusia dan planet bumi. Karena itu, pertanian menjadi leading sektor bagi program ini.

“Peranan pertanian berkaitan langsung dengan target SDGs tahun 2030 yakni memberantas kemisinan dan kelaparan No Poverty dan Zero Hunger,” ungkap Suwandi dalam acara Symposium dengan tema “Transforming Indonesia to Achieving Sustainable Development 2030” yang diselenggaran Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) IPB, di Bogor, Sabtu (14/10).

Menurut Suwandi, peran penting sektor pertanian dalam program SDGs terlihat dari 17 goals dan 169 target yang menitikberatkan pada upaya pengentasan kemiskinan dan kelaparan, disamping perhatian terhadap masalah kesehatan, pendidikan, ketidaksetaraan gender dan kelestarian lingkungan. Beberapa hal diantaranya tentu berhubungan langsung dengan pangan dan pertanian.

“Menuju ke target SDGs tahun 2030 tersebut, Indonesia kerja keras menekan angka kemiskinan nasional melalui pertanian,” ujarnya.

Suwandi menjelaskan kemiskinan masih menjadi persoaIan karena penduduk miskin masih mencapai 10,86 persen dari jumlah penduduk Indonesia. PersoaIan kemiskinan menjadi saIah satu faktor utama rendahnya akses masyarakat terhadap pangan. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, sekitar 20 juta penduduk mengaIami keIaparan setiap harinya.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas makanan khususnya beras memberi kontribusi besar terhadap garis kemiskinan di perkotaan kontribusi sekitar 20 persen dan pedesaan 26 persen dibandingkan kontribusi pangan lainnya.

“Keseimbangan pembangunan infrastuktur desa kota, agroindustri pedesaan beri dampak besar bagi pengentasan kemiskinan. Dan kebijakan-kebijakan kita yang pro rakyat seperti Harga Eceran Tertinggi (HET) misalnya, konsumen bisa menikmati harga bagus, petani juga. Belum lagi asuransi pertanian, kemudahan akses bank, hingga penguatan kelembagaan dengan korporasi petani juga bisa tingkatkan kesejahteraan,” papar Suwandi.

Suwandi menyebutkan kantong-kantong kemiskinan berada di pedesaan, pedalaman dan di wilayah pinggiran. Untuk itu pembangunan mesti menyasar masyarakat wilayah tersebut. Tentunya ini sejalan dengan Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK, membangun negeri dari pinggiran.

“Masyarakat pedesaan terutama di perbatasan taraf hidupnya harus meningkat dan bisa hasilkan komoditas pangan dan lainnya yang berkualitas memberikan nilai tambah,” ungkapnya.

“Implementasi Nawacita ini sudah mulai dilakukan Kementan, ekspor bawang merah ke Timor Leste di Malaka, NTT wilayah perbatasan sudah dilakukan beberapa hari kemarin. Tahun 2016 lalu Kementan sudah ekspor beras di perbataan Merauke ke Papua Nugini. Selanjutnya pada saat Hari Pangan Sedunia Oktober minggu depan direncanakan akan ekspor beras dari perbatasan Entikong, Kalimantan Barat ke Malaysia,” pungkasnya. (sak)

Bagikan artikel ini