Pertemukan Investor dan Pelaku Film

Pertemukan Investor dan Pelaku Film

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meningkatkan akses pendanaan investor pada sub sektor film dengan menggelar Film Investment Forum di Holiday Inn Kemayoran pekan lalu. Acara dihadiri lebih dari 50 orang kalangan investor maupum film maker.

Bekraf menghadirkan Wakil Kepala Bekraf, Ricky Joseph Pesik; Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo; Perwakilan Aurora Media & Emerald Media, Gin Kai Chan; Hooq & Laughing Elephant Founder, Krishnan Rajagopalan; Perwakilan Legacy Pictures, Robert Ronny; dan Perwakilan Ideosource, Andi S. Boediman. Moderator acara adalah Perwakilan Badan Perfilman Indonesia (BPI), Alex Sihar.

Deputi Akses Permodalan Bekraf menginformasikan salah satu program Deputi Akses Permodalan Bekraf yang mendukung perfilman Indonesia, yaitu Akatara, forum mempertemukan investor dengan film maker dari 40 project film yang terpilih oleh kurator dengan harapan investasi dari investor untuk Indonesia project film.

Gin Kai Chan mengungkapkan Asia Tenggara adalah ladang menjanjikan untuk berinvestasi di sub sektor film dengan perkembangan ekonomi yang pesat. “Kita harus berjalan bersama dengan setiap orang tanpa pamrih dengan kedaerahan kita. Pemerintah sendiri bisa melakukan sesuatu, yaitu menarik perhatian masyarakat,” ucapnya.

Krishnan Rajagopalan, menjelaskan bahwa ada peluang Over The Top (OTT), layanan konten dengan jaringan internet, untuk orang Indonesia yang mobile dan sering mengakses media melalui smartphone.

“Mereka mulai menonton di layar baru. Kita berada di market OTT Asia yang berkelanjutan. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tetap tertarik dan menonton setiap bulan. Hasilkan content bagus dan menjadi bagian keuntungan dari OTT Global,” ungkap Krishnan.

Perwakilan Legacy Pictures, Robert Ronny, menginformasikan tantangan dan peluang industri perfilman Indonesia. Ia menjelaskan bahwa perfilman Indonesia membaik dengan dukungan perusahaan besar, khususnya dukungan pendanaan untuk promosi. Tantangan perfilman Indonesia antara lain genre film yang beragam, perbedaan budaya, dan marketing yang belum jelas.

“Kita butuh lebih banyak genre (film), seperti science fiction, adventure, dan lain sebagainya,” kata Robert. Salah satu peluang perfilman Indonesia menurut Robert yaitu penonton yang lebih memilih cerita lokal. “Kita punya banyak cerita potensial untuk cerita modern,” tambah Robert.

Andi S Boediman menjadi narasumber terakhir menjelaskan investasi pada film. Pada international market, Indonesia menduduki peringkat 15. Andi menginformasikan investor masih tertarik pada tiga genre paling popular selama 10 tahun ini, yaitu komedi, drama, dan horror.

Alokasi investasi menurut Andi, terbagi menjadi tiga yaitu 20% berinvestasi pada film maker, 30% berinvestasi pada perusahaan produksi, dan 50% berinvestasi pada ekosistem film. “Kalian tidak tahu (film) yang mana yang jackpot. Investasilah lebih dari satu film,” pungkas Andi.

Alex Sihar merangkum acara ini sebagai forum yang mempertemukan para investor dan film makers dan narasumber yang hadir menjelaskan empat perspektif yaitu informasi seputar investasi pada sub sektor film, perkembangan film di Indonesia, OTT, serta tawaran Ideosource pada portofolio investasi untuk mengurangi resiko. (sak)

Bagikan artikel ini