Pesawat N219 Murni Rancangan Indonesia

Pesawat N219 Murni Rancangan Indonesia

Desain pesawat terbang jenis fixed wing yang tengah dikembangkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yaitu pesawat N-219, sepenuhnya dikerjakan para ahli Indonesia.

“N-219 seratus persen didesain sendiri, dan produksinya terutama untuk kebutuhan dalam negeri,” ujar Direktur Utama PTDI Budi Santoso seperti dikutip Antara di Bandung, Selasa (18/10).

Selain dirancang para ahli dari Tanah Air, katanya, kandungan lokal N-219 dari sisi nilai barang sebesar 40-60 persen.

“Satu-satunya saingan N-219 adalah Twin Otter buatan Kanada yang merupakan pesawat era 1960-an. Nantinya N-219 menjadi moda transportasi udara yang sangat sesuai untuk membuka wilayah-wilayah terpencil sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga pertahanan dan keamanan nasional,” katanya.

Pesawat N-219, kata dia, akan disertifikasi di dalam negeri oleh Kementerian Perhubungan dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Saat ini, PTDI memfokuskan produksi pesawat berbadan kecil dengan jumlah kursi paling banyak 50 buah serta dilengkapi teknologi STOL (Short Take-Off and Landing).

Atau mampu tinggal landas dan mendarat di landasan pendek (800 meter) serta berpermukaan kasar guna mendukung kegiatan penerbangan di wilayah terpencil.

“N-219 mempunyai 19 kursi penumpang dengan teknologi yang di-upgrade (ditingkatkan) dari sisi aerodinamik dan avionik,” ungkap Budi.

Dia menyampaikan harapannya produk pesawat terbang PTDI yang ‘ramah wilayah pedalaman’ bisa menghubungkan masyarakat yang mendiami daerah terpencil dengan mereka yang tinggal di tempat lainnya di Tanah Air sehingga dapat memperkuat persatuan bangsa.

Logistik Nasional
Pesawat produksi PTDI menurut Budi, memiliki teknologi yang mendukung kegiatan logistik nasional, baik orang, jasa dan barang hingga di pulau-pulau terpencil serta perkampungan yang terisolasi lembah dan pegunungan yang curam.

“Pesawat PTDI memiliki keunggulan yang mendukung kegiatan penerbangan di daerah terpencil dimana infrastruktur masih terbatas,” kata Budi Santoso.

Menurut dia, karakter geografi wilayah Indonesia dengan perairan lebih luas daripada daratan serta belasan ribu pulau yang terpencar membutuhkan kekuatan transportasi udara yang kuat, terutama dalam hal kemampuan pesawat udara.

Selain itu, kata Budi, infrastruktur penerbangan di wilayah pedalaman dan terpencil yang masih terbatas menuntut kemampuan pesawat terbang untuk dapat beroperasi dalam kondisi khusus. “Landasan pacu di daerah terpencil pendek dan permukaannya kasar atau berumput,” katanya.

PTDI tidak hanya menjalankan misi komersial sebagai produsen pesawat terbang nasional, namun juga terus berupaya memenuhi amanat dalam memperkuat persatuan nasional melalui produk-produknya yang memudahkan transportasi barang dan membuka isolasi masyarakat di pedalaman dengan daerah-daerah lainnya di seluruh nusantara.

“Harapan kami PTDI bisa menjadi pemersatu bangsa karena wilayah Indonesia yang sangat luas ini membutuhkan transportasi udara, terutama untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang sifatnya darurat,” ujar Budi.

Salah satu produk unggulan PTDI adalah CN235 yang dapat digunakan untuk keperluan militer dan sipil dengan biaya pemeliharaan rendah.

Beberapa pesawat PTDI yang telah selesai dibuat dan diantarkan kepada pemesan di dalam negeri adalah tujuh unit CN235 versi angkut militer, lima unit CN235 versi angkut sipil dan dua unit NC212.

Selain itu, Satu unit CN235 versi angkutan sipil juga telah dikirim ke Venezuela dan dua unit diantarkan ke Thailand.

Sementara itu, tipe pesawat yang sama versi angkutan militer telah diantarkan ke Burkinafaso dua unit, Uni Emirat Arab enam unit, Korea Selatan tujuh unit dan Malaysia enam unit. (sak/ist)

Bagikan artikel ini