Pesona Tongki Karya Mahasiswa ITS

Pesona Tongki Karya Mahasiswa ITS

Berkuliah di kampus berbasis teknologi tidak menghalangi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menghasilkan karya seni yang diakui oleh masyarakat luas.

Seorang mahasiswa Desain ITS berhasil menggabungkan nuansa teknologi dengan seni dan warisan budaya nusantara yang diimplementasikan dalam karya bernama Tongki.

Tongki merupakan karya mahasiswa Departemen Desain Produk Industri ITS, RA Ferrani Inveztia yang diikutsertakan dalam kompetisi desain Bharatika di Universitas Kristen Petra Surabaya beberapa waktu lalu.

Kala itu Fea, sapaan akrabnya, dituntut untuk membuat desain kursi yang mampu menghadirkan kesan betah di dalamnya. Fea pun menerjemahkan kata betah sebagai kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga.

“Duduk di teras bersama keluarga kala senja dengan ditemani secangkir teh hangat, membuat betah untuk saling bercerita,” ungkap Fea dikutip Humas ITS.

Desain single seat buatan perempuan asal Jogja ini terinspirasi oleh rumah adat Tongkonan yang berasal dari tanah Toraja. Nama Tongkonan sendiri berasal dari kata tongkon, yang memiliki makna duduk bersama, sehingga sangat selaras dengan ide desain yang dimilikinya.

Finalis Indonesia Footware Creative Competition 2017 ini pun mempresentasikan rumah Tongkonan lewat bentuk sandaran dan arm rest dalam desain kursinya. Sentuhan warna putih cerah yang dipadukan dengan corak natural dari kayu jati Belanda membuat Tongki terlihat sederhana dan ringan, namun tetap elegan untuk dipakai di rumah, apartemen, bahkan hotel.

Selain memiliki desain yang elegan, Tongki juga lebih siap secara komersial. Pasalnya kursi ini dirancang menggunakan sistem knockdown, sehingga lebih efisien dalam proses distribusi.

“Konsep kursi bongkar pasang seperti ini juga mampu mempermudah penyimpanannya jika tidak digunakan,” tutur perempuan yang lekat dengan kaca matanya ini.

Pesona kursi Tongki mampu menghasilkan gelar juara dalam ajang Bharatika, di cabang lomba desain kursi untuk kategori desain interior. Meski dihinggapi rasa kurang percaya diri saat tahu terpilih sebagai finalis, karakter anak ITS yang dimilikinya membawa Fea keluar menjadi jawara.

“Desain dari finalis lain menurutku banyak yang bagus dan berani main bentuk, sempat membuatku minder. Tapi syukur perasaan itu bisa teratasi,” pungkas Fea. (ita)

Bagikan artikel ini