Tujuh Polisi Korban Bom Naik Pangkat

Tujuh Polisi Korban Bom Naik Pangkat

Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan penghargaan bagi tujuh personel kepolisian di jajaran Polrestabes Surabaya dengan memberikan kenaikan pangkat luar biasa.

Tujuh personel Polri itu merupakan korban ledakan bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya dan di depan Mapolrestabes Surabaya.

Tujuh Bintara polisi yang diberikan kenaikan pangkat tersebut, yakni :

1. Aiptu Akhmad Nurhadi (Banit Sabhara Polsek Gubeng)
2. Aiptu Junaidi (PS. Kanit II Unit Sabhara Polsek Gubeng)
3. Bripka Rendra Agus Hardiyanto (Banit Dalmas Sat Sabhara Polrestabes Surabaya)
4. Bripda Akhmad Muaffan Alaufa (Banit Dalmas Sat Sabhara Polrestabes Surabaya)
5. Bripda Andik Fendi Putra (Banit Dalmas Sat Sabhara Polrestabes Surabaya)
6. Briptu Dimas Indra Safianto (Banit Dalmas Sat Sabhara Polrestabes Surabaya)
7. Aipda Umar Sholeh (Banit Provost Sie Propam Polrestabes Surabaya)

Pada kesempatan tersebut Kapolri menyampaikan terjadinya peristiwa peledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo telah ditangani dengan cepat oleh polisi. Kapolri pun memberikan apresiasi karena pelakunya cepat dapat diidentifikasi.

Dari pelaku teroris adalah berasal dari : peledakan bom di tiga gereja dilakukan oleh satu keluarga demikian juga bom bunuh diri yang dilakukan di Polrestabes Surabaya juga dilakukan oleh satu keluarga.

Menurutnya, masalah teroris ibarat gunung es dimana kalau yang dipotong hanya puncaknya saja dibawahnya masih ada akarnya yang lebih besar dan teroris berkaitan dengan masalah ideologi.

Oleh sebab itu, lanjut dia, untuk bisa menyelesaikan masalah teroris diperlukan kemampuan dan kepedulian semua pihak. “Menghentikan kelompok radikalisme dan terorisme ini tugas bersama. Baik oleh pemerintah maupun seluruh masyarakat Polri dan TNI akan tetap melakukan pemberantasan terhadap teroris,” tegasnya.

Ia menambahkan, peran serta masyarakat dan juga keluarga sangat diperlukan untuk mencegah perkembangnya teroris. “Dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, orang tua harus selalu memonitor kegiatan putra putrinya. Di samping itu media sosial mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebaran paham radikal khususnya generasi muda yang mudah mengakses konten-konten teroris,” jelasnya.

“Perlu ada upaya-upaya membendung penyebaran paham radikal di media sosial melalui cyber troops. Kami juga mengajak seluruh masyarakat bersatu padu memerangi terorisme,” tukasnya. (jnr)

Bagikan artikel ini