Potensi Ekspor Batik Panji Tulungagung

Potensi Ekspor Batik Panji Tulungagung

Selain melaksanakan pameran kain-kain batik, 8 griya batik di Tulungagung juga menyelenggarakan fashion show pada Hari Minggu (4/8/18) pada petang hari di Ballroom Hotel Crown Tulungagung.

Fashion show semakin istimewa karena pembatik Setia Hadi melaunching batik motif baru berdasar riset literatur tentang Budaya Panji termasuk riset relief Candi Penataran di Blitar.

Ada 4 lembar motif batik baru yang diperkenalkan Setia Hadi sebelum pagelaran pakain-pakain produk Griya Batik Gayatri, yaitu Panji Laras (tentang tarung jago di udara), Bedah Alas (binatang-binatang), Gandrung Asmarabangun Condrokirono (kisah jatuh bangunnya asmara Dewi Candrakirana) dan Tetabuhan (tentang alat-alat musik di Candi Penataran).

Setia Hadi juga membacakan puisi yang merupakan filosofinya dalam membatik dan memanggil ke panggung mbak Rurin, si tukang canting di Griya Batik Gayatri.

“Memang tidak sendirian, dibalik motif yg elok ada tangan yang menggoreskan canting dengan lembut dan sabar, sebuah penghargaan yang dalam buat mbak Rurin yang sudah menggoreskan cantingnya di atas babaran kain yg telah saya gambar sebagai desain motif-motif,” ungkap pak Hadi di atas panggung sambil setengah membungkuk ke arah mbak Rurin.

Malam itu Batik Gayatri menyajikan model baju kebaya klasik dari kain lurik dipadu dengan kain batik tulis yang halus, yang salah satunya istimewa karena bermotif Sarinah yang diambil dari buku Bung Karno.

Batik Gajah Mada menyajikan batik dua warna hitam putih dengan kombinasi kain polos dengan model baju semi kasual. Sedangkan Desainer nasional Eli Firgowati yang berasal dari Tulungagung juga menampilkan baju-baju kombinasi kain lurik dan batik warna-warni dengan model kontemporer yang cocok untuk para gadis belia.

Eva Sundari tekun mengikuti pagelaran fashion show dan berkomentar, “Ini luar biasa, personal, indah dan berkualitas. Saya ingin pastikan bahwa pemerintah bisa memfasilitasi ekspor Batik Panji Tulungagung mungkin dengan melibatkan komunitas-komunitas Diaspora Indonesia.”

Dia melanjutkan bahwa Batik memang sudah berhasil menjadi tuan di rumah sendiri, sehingga sudah saatnya untuk mendobrak pasar dan fashion dunia. (ita)

Bagikan artikel ini