Prof Husniyatus, Guru Besar ke-57 UINSA
PROFIL

Prof Husniyatus, Guru Besar ke-57 UINSA

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengukuhkan Prof Dr Hj Husniyatus Salamah Zainiyati MAg menjadi Guru Besar Ke-57 Bidang Ilmu Pendidikan Islam, usai menyampaikan orasi ilmiahnya terkait Integrasi Identitas-Etik Pendidikan Islam.

Bertempat di Gedung Sport Center and Multipurspose UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Husniyatus menyebut Integrasi Identitas-Etik Pendidikan Islam adalahebuah paradigma pemikiran mengenai konsep Pendidikan Islam yang berupaya memadukan identitas dan etika dalam pendidikan.

“Jadi, penelitian ini untuk mengkritisi model integrasi keilmuan dan kelembagaan di beberapa UIN yang beragam saat ini,” tegasnya, Rabu (7/3).

Beberapa bentuk paradigma kelembagaan yang berkembang saat ini, misalnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan model integrasi interkoneksi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan model Jaring laba-laba keilmuan, UIN Sunan Gunung Jati Bandung dengan model Integrasi roda ilmu.

Juga di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang integrasi pohon ilmu, Sie Cemara Ilmu UIN Alaudin Makasar, serta UIN Sunan Ampel Surabaya dengan paradigmaIntegrated Twin Towers’ (menara kembar).

“Ragam prinsip dan tampilan padigma tersebut, kalau dibaca menggunakan Third way concept, semua model bermuara pada keinginan untuk membangun ‘integrasi identitas-etik’ lembaga pendidikan tinggi Islam,” tegas Prof Husniyatus menjelaskan kerangka baca yang dipakai dalam penelitian.

Berdasar pada konsep jalan ketiga inilah Prof Husniyatus berusaha memadukan pemikiran integrasi dengan kondisi saat ini. “Intinya saya ingin mengkonstruk ulang konsep pemikiran Pendidikan Islam tentang integrasi yang ada di UIN. Agar kita memahami ruh yang sebenarnya dari integrasi keilmuan atau kelembagaan,” imbuhnya.

Lantas, lanjut Prof Husniyatus, hal mendasar dari konsep integrasi di UIN yang menarik untuk dikaji, bahwasannya perubahan status kelembagaan menjadikan tidak adanya lagi dikotomi keilmuan, antara ilmu agama dan umum.

Meskipun, ditegaskan Prof Husniyatus, Integrasi identitas-etik Lembaga Pendidikan Islam tidak menjamin mahasiswa santri berperilaku sebagaimana nilai yang diajarkan di pesantren dalam kepribadiannya dan berfikir kritis seperti karakter pendidikan umum.

“Maka harapan ke depan UIN seyogyanya menentukan perimbangan insentitas antara nilai etik kemahasiswaan yang bebas berfikir akademis dan kesantrian yang taat melalui sosialisasi dan kanalisasi perilaku mahasiswa itu sendiri,” sarannya.

Lebih lanjut mengenai nilai etik kemahasiswaan, Prof Husniyatus secara tegas dalam penelitiannya menyatakan, bahwa Corak Islam Moderat dianggap relevan menjadi nilai penting dalam membangun Islamic Citizen school. Hal ini mengingat, Islam Moderat adalah entitas Islam khas Indonesia yang tidak mempersoalkan ideologi integralisme ala Pancasila dan menerima NKRI.

Karenanya, sebagaimana konsep berpikir dalam third way concept, Prof Husniyatus menjelaskan, terdapat tiga hal yang menjadi kajian utama. Yakni Intergrasi ilmu, kemanusiaan paripurna, dan pembentukan citizenship skills.

Meskipun, pada akhir kajian Prof Husniyatus juga secara legowo menyampaikan, konsep tersebut belum final. Sebab, ada banyak kemungkinan untuk terus melakukan kajian ulang sebagaimana kondisi jaman.

“Intergrasi Identitas-Etik dengan kerangka baca Third way concepthanya ‘titik jeda’ dari diskursus yang saya kembangkan sendiri dalam upaya membangun nilai religio-nationalisme,” pungkas Prof Husniyatus. (sak)