Remote Sensing Bisa Pantau Ladang Ganja

Remote Sensing Bisa Pantau Ladang Ganja

Remote Sensing alias Penginderaan jauh (Inderaja) masih asing di telinga masyarakat awam Indonesia. Padahal, Inderaja menjadi salah satu teknologi keantariksaan yang dapat diandalkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Termasuk mengawasi perkebunan ganja hingga mendeteksi titik api kebakaran lahan.

“Oh ya (mengawasi kebun ganja). Kita kerjasama dengan BNN (Badan Nasional Narkotika) tahun lalu,” ungkap Deputi Bidang Inderaja Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Orbita Roswintiarti, Selasa (17/10).

Menurut Orbita, pihak BNN tertarik untuk mendeteksi keberadaan ladang ganja yang ada di Indonesia. Sehingga, pihak LAPAN melakukan penelitian dan observasi sebelum data diserahkan ke pihak BNN.

“Jadi, mereka (BNN) ingin melihat ladang ganja, minta kita (LAPAN) mendeteksi. Apalagi, bentuk ganja kan sama seperti daun singkong kan ya. Kita nggak mau salah,” paparnya seperti dilaporkan nusantara.rmol.co.

Teknisnya, pihak BNN memberikan titik ladang, berdasarkan hasil penyelidikan. Dari situ pihak BNN bisa memaparkan kronologis lokasi yang dianggap rawan ladang ganja. Lalu, pihak Inderaja langsung monitor titik tersebut selama periode satu tahun sebelumnya.

“Dengan satu tahun ke belakang kita lihat perilaku dari tanaman ganja, berapa bulan menanam, lokasi dimana dan lainnya,” urai Orbita.

Hal itu, disampaikan Orbita dalam Seminar Nasional (Sinas) Inderaja Tahun 2017 salah satu Hotel kawasan Depok, Jawa Barat. Dalam Sinas Inderaja kali ini, LAPAN mengusung tema “Peningkatan IPTEK Penginderaan Jauh dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dengan Menggerakkan Sektor-sektor Strategis Ekonomi Domestik.”

Selain memantau ladang ganja, LAPAN juga bisa mendeteksi potensi ilegal fishing, serta titik api kebakaran lahan. Mereka juga berkerjasama dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait kebakaran lahan tersebut.

“Kita mengolah dari berbagai parameter. Misal perbedaan suhu dangan derajat di laut. Adanya sebaran klorofil, potensi ikan di zona wilayah laut, termasuk memanfaatkan suhu. Kalau titik api, sekarang KLHK meminta info hanya dari LAPAN. Kita mendeteksi adanya thermal (panas bumi),” tuturnya.

Pemanfaatan hasil kegiatan Inderaja LAPAN oleh para stakeholder menjadi cikal bakal Pembangunan Bank Data Inderaja Nasional dan Sistem Pemantauan Bumi Nasional.

Selain itu, terjalinnya kerja sama skala nasional dan internasional mendukung optimalisasi penyediaan dan pemanfaatan data penginderaan jauh. Sehingga hal ini suatu kekuatan penting dalam meningkatkan kualitas hasil kegiatan.

Saat ini, pemanfaatan penginderaan di berbagai kepentingan pada sektor-sektor pembangunan nasional sudah dilaksanakan. Seperti kehutanan, pertanian, kelautan dan perikanan, serta pemantauan lingkungan dan mitigasi bencana.

Informasi yang sudah dimanfaatkan masyarakat antara lain Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), fase pertumbuhan padi dan tanggap darurat bencana.

“LAPAN telah berkontribusi besar dalam mendukung peningkatan pembangunan nasional di sektor ekonomi. Wujud dukungannya antara lain terhadap peningkatan pendapatan seperti pajak, efisiensi penangkapan ikan, dan efisiensi peningkatan produktivitas tanaman padi,” terang Orbita.

Sementara itu, potensi ekonomi potensial lainnya yang banyak belum digali adalah sektor pertambangan energi dan sumber daya mineral, penentuan zona pariwisata, budi daya perikanan, dan sumber daya lainnya di berbagai sektor.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Diseminasi Pusfatja LAPAN, Muhammad Priyatna selaku ketua panitia berharap, Simnas Inderaja 2017 dapat menjadi forum tukar menukar informasi dalam segala aktivitas kegiatan Inderaja untuk sektor ekonomi.

“Untuk itu, LAPAN menggandeng berbagai unsur terlibat di dalamnya baik dari kementerian atau lembaga, pemerintah daerah, swasta, dan lembaga swadaya masyarakat, terangnya,” pungkasnya.

Hadir dalam Simnas Inderaja tersebut, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kalamullah Ramli, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Provinsi Sulsel Andi Muhammad Yamin dan Kepala Pusat Inderaja LAPAN, Rokhis Khomarudin. (sak)

Bagikan artikel ini