Risma: Saya ‘Menjual’ Surabaya

Risma: Saya ‘Menjual’ Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD Jawa Timur telah sukses menggelar event skala internasional bertajuk Surabaya Marathon 2018, Minggu (12/8). Event yang diikuti sekitar 4.400 pelari nasional maupun internasional itu ditutup dengan Gala Dinner dan pemberian hadiah di Balai Kota Surabaya, Minggu malam.

Dengan suksesnya event ini, Wali Kota Risma mengaku akan segera melakukan evaluasi tentang berbagai hal yang perlu diperhatikan apabila digelar event yang sama tahun depan. Bahkan, ia mengaku tidak menutup kemungkinan jumlah peserta tahun depan akan ditambah, tinggal menunggu kesiapan di jajaran Pemkot Surabaya.

“Jadi, ini sekaligus saya menjual Kota Surabaya dan sekaligus melatih warga Surabaya untuk menjadi tuan rumah yang baik apabila ada event-event internasional,” kata Wali Kota Risma seusai Gala Dinner Surabaya Marathon 2018.

Menurut Risma, tahun ini memang berbeda dengan tahun lalu. Sebab, di tahun ini ada Full Marathon dengan jarak 42 kilometer (42 K). Selain itu, dari sisi juaranya, ada kategori open yang terbuka khusus siapa aja, termasuk pelari internasional, ada pula kategori nasional yang khusus untuk pelari Indonesia, dan kategori master khusus pelari di atas umur 40 tahun ke atas.

“Meskipun ada khusus untuk nasional, tapi saya berharap ini menjadi cambuk untuk kita semakin berprestasi, suapaya kita tidak hanya jadi jago kandang,” tegasnya.

Sedangkan pemenang atau juara pada Surabaya Marathon 2018 ini banyak didominasi oleh pelari asal Kenya. Adapun juara pertama 42 K open male diraih oleh Bernard Mwendia Muthor (Kenya) dengan waktu 2:24:04, juara kedua diraih oleh Walter Kiptanui Koech (Kenya) dengan waktu 2:30:06, dan juara ketiga diraih oleh Michio Yoneda (Japan) dengan waktu 3:08:53.

Sedangkan untuk juara pertama 42 K open female diraih oleh Gladys Jepkoske Kwamba (Kenya) dengan waktu tempuh 2:55:53, juara kedua Purity Serem (Kenya) dengan waktu tempuh 2:58:05, dan juara ketiga Susan Jepkemei Kiplagat (Kenya) dengan waktu tempuh 3:00:10.

Sementara di kategori 21 K open male, juara satu sampai tiga diraih oleh pelari pelari Kenya. Begitu pula dengan 21 K open female, juara satu sampai tiga diraih oleh pelari Kenya. Khusus di kategori 10 K open male, juara satu diraih oleh pelari Kenya dan juara dua dan tiga diraih oleh pelari Indonesia. Sedangkan kategori 10 K open female, juara satu dan dua diraih oleh pelari asal Kenya dan juara tiga diraih oleh Filipina.

Selain itu, di kategori 5 K open male, juara satu sampai juara tiga diraih oleh pelari Kenya. Begitu pula dengan 5 K open female, juara satu sampai juara tiga diraih oleh pelari Kenya. Jadi, pelari asal Kenya sangat mendominasi juara di Surabaya Marathon 2018 ini.

Bernard Mwendia Muthor, juara pertama 42 K open male asal Kenya mengaku senang dan bangga bisa menjadi juara di ajang Surabaya Marathon 2018 ini. Sebab, dia baru pertama berkunjung ke Surabaya dan baru pertama mengikuti Surabaya Marathon ini. “Saya sangat senang dan bangga,” kata Bernard seusai menerima hadiah sebesar Rp 23 juta.

Ia mengaku sudah mempersiapkan kompetisi ini sekitar tiga minggu lalu. Bahkan, ia mengaku setiap hari bangun pagi dan langsung berlari. Sorenya sekitar pukul 16.00, ia berlatih lari lagi. “Jadi, setiap hari saya harus berlatih 2-3 kali. Setiap hari, saya harus berlari sekitar 1 kilometer, jika tidak maka saya akan kalah,” katanya sambil tersenyum.

Bernard juga mengapresiasi Surabaya Marathon 2018. Bagi dia, tracknya sangat bagus dan semua tertata dengan rapi. Makanya, dia mengaku tidak ada masalah selama berlari. “Di Surabaya ini sangat memanjakan para pelari,” ujarnya.

Bahkan, ia mulai jatuh cinta kepada Kota Surabaya. Menurutnya, Kota Surabaya itu tidak panas seperti Jakarta. Kotanya juga sangat indah, sehingga dia tidak mau langsung pulang ke Kenya setelah acara Surabaya Marathon. “Saya masih akan di Surabaya sampai satu minggu ke depan. Ingin keliling Surabaya dulu,” pungkasnya. (ita)

Bagikan artikel ini