RS Terapung Unair Bantu Persalinan

RS Terapung Unair Bantu Persalinan

Untuk pertama kali sejak beroperasi pada Sabtu, 11 Agustus 2018, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga membantu persalinan pasien terdampak gempa di Lombok Utara. Bayi laki-laki lahir pada 16 Agustus 2018 dan diberi nama Airlangga Gempa Putra.

Dihubungi via telepon pada Jumat (24/8), dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG koordinator dokter yang menangani persalinan bayi mengatakan bahwa meski berada di rumah sakit darurat, proses persalinan berjalan dengan lancar. Proses persalinan bayi Airlangga dibantu satu orang bidan dan dua orang perawat.

Sejak berlabuh di Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara, RS Terapung Ksatria Airlangga menanganin puluhan pasien tiap harinya. Tentu, dari pekan ke pekan, pasien yang datang dengan keluhan beragam.

Di pekan pertama misalnya, sebagian besar pasien yang datang memiliki keluhan cedera anggota tubuh hingga patah tulang. Dalam situasi ini, dokter yang lebih banyak dibutuhkan adalah dokter ortopedi dan bedah.

Sementara di pekan kedua dan seterusnya, karena intensitas gempa yang mulai berkurang, pasien yang datang mulai beragam. Seperti kehamilan, pernafasan, pencernaan, anak-anak, kulit, dan pasca-operasi di pekan sebelumnya.

“Dalam hal ini, potensi trauma kejiwaan pada pengungsi perlu mendapat perhatian. Di saat inilah bantuan psikolog bisa digunakan,” papar dokter Erza, seperti dilaporkan Humas Unair.

“Pasien cukup banyak. Sehari saja, SpOG (spesialis kebidanan dan kandungan, Red) bisa mencapai 20 pasien,” terang dokter Erza.

Ada banyak dokter relawan dari alumni Unair yang bertugas di sana. Mulai dokter yang baru lulus dan terpanggil hatinya untuk jadi relawan, dokter spesialis bedah, spesialis ortopedi, anestesi, SpOG. Selain itu, juga ada relawan lain dari Unair yaitu dari kalangan wanala dan mahasiswa tanggap bencana (MAHAGANA).

RS Terapung Ksatria Airlangga memang tidak bisa diharapkan memiliki layanan sempurna seperti rumah sakit pada umumnya. Namun, segala obat dan kelengkapan peralatan medis sebisa mungkin dipenuhi.

Terkait hal ini, dokter Erza berterimakasih kepada seluruh donatur yang memberikan bantuan peralatan yang belum tersedia. Seiring berjalannya waktu, pelayananpun semakin memadai.

Atas pelayanan yang diberikan, dokter Erza berharap bahwa RS terapung seperti yang dikelola oleh ikatan alumni Unair ini tidak hanya ada di Unair saja, melainkan perguruan tinggi dan instansi pendidikan lain.

Pelayananpun diharapkan dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Misalnya, daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau menggunakan pesawat. “Program seperti ini harus berjalan berkesinambungan,” papar dokter Erza.

Karena bersifat relawan, dokter yang bertugas di Lombok Utara tidak menetap. Tiap satu pekan, ada pergantian dokter relawan. Hal ini juga untuk mencegah relawan dokter yang kelelahan saat bertugas. (ita)

Bagikan artikel ini