RS Unair Resmikan Unit Endoskopi

RS Unair Resmikan Unit Endoskopi

Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) meresmikan unit baru pelayanan endoskopi pada Rabu (31/10). Peresmian unit baru ini menambah deretan layanan dan fasilitas yang diberikan rumah sakit untuk memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat.

Peresmian dihadiri langsung oleh Direktur Jenderal Sumber Daya IPTEK dan Dikti Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD beserta jajaran pimpinan RS UNAIR.

Prof. dr. Ali Ghufron mengatakan,RS UNAIR ini adalah rumah sakit pendidikan di bawah Kemenristek-Dikti yang berkembang sangat cepat.

“RS UNAIR sebentar lagi kita dorong ke arah kemandirian. Harus ada ide-ide baru dan pengembangan. Sehingga sebagai RS pendidikan, tidak saja untuk pendidikan, pelayanan, tapi juga penelitian dan inovasi baru. Untuk itu, ide baru yang dilakukan antara lain dengan membuka unit pelayanan endoskopi,“ ujarnya.

Dengan pelayanan endoskopi pihaknyaberharap, nanti pemeriksaan bisa lebih bagus lagi, diagnosis bisa lebih tepat, dan tritmen bisa lebih bagus. Sehingga, bisa lebih efektif dan efisien. Termasuk juga nanti bisa mendorong kemandirian RS UNAIR.

Harapannya, RS UNAIR sebagai RS pendidikan terus merespon perubahan. Terutama, di era revolusi indusri 4.0, dimana semua serba internet of thing, serba big data, dan serba tele. Tele-medicine, tele-diagnosis, tele-treatment, tele-konsultasi.

“Sehingga, nanti ada hospital without wall, RS tanpa batas dinding. Dimanapun bisa memberikan layanan. Termasuk konsultasi endoskopi. Kami berharap, ada semacam layanan konsultasi. Sehingga bisa lebih cepat, tepat, dan efisien,“ tambahnya.

Sementara Direktur RS UNAIR Prof Dr Nasronuddin dr SpPD KPTI-FINASIM mengatakan bahwa tahun 2018 ini, RS UNAIR dipercaya rektor untuk mengelola RS secara mandiri. Baik pengelolaan keuangan maupun SDM. Dan sejak awal tahun 2016, RS UNAIR menerima pasien BPJS sebanyak 97,6 persen.

“Kami berusaha meraih pasien non-BPJS. Hingga hari ini, ada 6 asuransi umum yang bekerjasama dengan RS UNAIR. Target kami tahun 2020 nanti 30 persen pasien adalah non-BPJS,” jelasnya.

Terkait layanan endoskopi, dilakukan untuk meningkatkan produktivitas RS UNAIR. Endoskopi ini adalah layanan pengembangan. Tujuannya, meningkatkan optimalisasi layanan dan mengembangkan yang belum ada.

“Era internet of thing ini, semua layanan berbasis internet. Jika dulu seseorang sakit baru datang ke rumah sakit, kini kita yang lebih pro-aktif. Hal ini merespon perubahan kaitannya dengan revolusi industri 4.0,” ujarnya. (ita)

Bagikan artikel ini