Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo 2017

Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo 2017

Keinginan Cak Nur (Nurwiyatno) untuk melestarikan tradisi Jawa tidak bisa dicegah. Upaya pelestarian budaya bangsa demi tegaknya NKRI, membuat Cak Nur menghadiri undangan masyarakat dalam kegiatan ‘Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo’.

Kegiatan ini, merupakan kegiatan rutin suroan, masyarakat Dusun Biting Desa Adat Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto yang jatuh pada hari Kamis Legi, 7 Suro atau 28 September 2017.

Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo adalah doa yang ditujukan kepada Tuhan YME agar sumber mata air di Desa Seloliman tetap lancar dan bisa menghidupi seluruh warganya. Setiap tahunnya masyarakat Dusun Biting Desa Seloliman mengadakan ruwat sumber sebelum tanggal 10 bulan Suro (pengkalenderan Jawa).

Kegiatan yang dulunya hanya dilakukan oleh masyarakat Dusun Biting, kini telah berkembang menjadi kegiatan rutin Desa Seloliman dan diakui hingga tingkat nasional sebagai salah satu bentuk tradisi, kearifan lokal dalam menjaga pelestarian lingkungan.

Cak Nur (Nurwiyatno) meyakini kegiatan semacam ini harus dijaga kelestariannya karena telah terbukti kemanfaatannya bagi masyarakat luas. Menurut pemahaman Cak Nur, ruwat adalah cara masyarakat Jawa dalam berdoa kepada Tuhan YME (untuk tujuan tertentu) yang dalam prosesinya terdapat beberapa hal (ubo rampe) dan simbol-simbol nilai luhur kehidupan seperti yang telah dilakukan masyarakat Dusun Biting tersebut.

“Seperti yang kita ketahui bahwa, tradisi ruwatan ini bisa ditujukan untuk kepentingan seseorang, kelompok masyarakat maupun lingkungan dan kegiatan Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo ini, dapat kita kategorikan sebagai salah bentuk kegiatan, ruwat lingkungan,” kata Cak Nur.

Tradisi (upacara/ritual) ruwatan hingga kini masih dipergunakan orang Jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosa/kesalahannya yang akan berdampak pada kesialan di dalam hidupnya.

Ruwatan di Jawa awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita Jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah penyucian, yaitu agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi (terhindar) dari kesusahan (masalah) dengan cara doa dan mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang yang mengambil tema (cerita) Murwakala.

Ruwat Sumber di Desa seloliman ini ditujukan agar sumber mata air yang berada di sekitar dusun atau desa tersebut tetap lancar dan terus menghidupi masyarakat baik melalui pertanian maupun kebutuhan sehari-hari utamanya untuk minum dan makanan.

Dengan tempat prosesi ruwat sumber yang diadakan di Patirtan Jolotundo, membuat kegiatan ruwat sumber masyarakat Dusun Biting ini lebih dikenal masyarakat luas dengan ‘Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo’.

Sumber mata air di Patirtan Jolotundo selain dipercaya memiliki kekuatan (kemanfaatan tertentu) bagi para pengunjungnya, juga merupakan sember mata air terbesar di areal Gunung Penanggungan dengan kualitas air yang luar biasa. Hal inilah yang menyebabkan hingga saat ini Patirtan Jolotundo ramai dikunjungi baik turis lokal maupun manca negara. (sak)

Bagikan artikel ini