Saat BUMN Hadapi Ketidakpastian

Saat BUMN Hadapi Ketidakpastian

Ketidakpastian menjadi ancaman dalam dunia usaha saat ini. Fluktuasi pasar yang tak terprediksi kapanpun dapat memberikan dampak. Penggunaan transaksi lindung nilai (hedging) dapat menjadi alternatif menjawab tantangan tersebut.

BUMN sebagai korporasi Pemerintah Indonesia turut mendukung melalui penandatangan fasilitas lindung nilai atau Fx Line di Bank Indonesia.

Pada prosesi penandatanganan disaksikan langsung Gubernur BI Agus Martowardojo dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Ada delapan korporasi BUMN yang berpartisipasi dalam penandatanganan tersebut.

Yaitu Pupuk Indonesia, Perusahaan Gas Negara, Perum Bulog, Pelindo II, Pelindo III, Perum Peruri, Aneka Tambang dan Semen Baturaja. Ditambah tiga bank BUMN, BRI, BNI dan Bank Mandiri.

Jumlah transaksi lindung nilai mencapai 1,92 miliar USD. Jumlah hedging itu memfasilitasi ketiga bank BUMN, dengan masing-masing BRI dengan fasilitas 750 juta USD, BNI mendapatkan 619 USD dan Bank Mandiri dilindungi 555 juta USD.

Menteri BUMN berharap seluruh BUMN dapat bergabung dalam fasilitas lindung nilai (FX Line). BUMN diharapkan dapat lebih fokus menghadapi ketidakpastian dengan melakukan mitigasi risiko. Salah satunya risiko dari valuta asing (valas).

“Kementerian BUMN terus mendorong seluruh korporasi pelat merah melakukan hedging. Manajemen risiko dengan menggunakan transaksi lindung nilai ini penting demi menjaga alur peredaran uang perusahaan,” tutur Rimi Soemarno.

Serta menjaga atau melakukan manajemen yang hati-hati untuk risiko valas menjadi hal yang penting. Dengan lindung nilai, perhitungan cashflow akan lebih baik, imbuh Mneteri BUMN.

Gubernur BI Agus Martowardojo menuturkan dengan fasilitas lindung nilai arus kas lebih terukur dan dapat dipastikan. “Korporasi yang menunjukkan kinerja yang baik, tentu meningkatkan kepercayaan investor,” jelas Agus. (sak)

Bagikan artikel ini