Sang Pencerah di Basket Kursi Roda

Sang Pencerah di Basket Kursi Roda

Asian Para Games 2018 memang sudah berakhir, tetapi bagi Donald Santoso ajang itu tidak akan sekadar lewat karena menimbulkan kesan yang luar biasa bagi dirinya. Dia lah pencetus terbentuknya tim nasional basket kursi roda.

Pada 2017, Donald mulai mengembangkan olahraga basket kursi roda di Indonesia dengan mendirikan Jakarta Swift Wheelchair Basketball. Komunitas itu kemudian menjadi cikal bakal berdirinya tim nasional basket kursi roda Indonesia.

Kecintaan Donald pada olahraga basket sudah dimulai sejak kecil. Akan tetapi pada usia 17 tahun, kehidupannya berubah drastis. Lututnya divonis menderita cedera ligamen.

Hal itu memang tidak membuat Donald lumpuh total, tetapi cedera itu memaksanya tidak bisa berlari dan bermain basket seperti dulu.

Bagi kebanyakan atlet, cedera ligamen bisa disembuhkan melalui beberapa cara pengobatan termasuk operasi. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Donald. Total sudah enam kali operasi dijalani Donald tetapi semuanya berjalan negatif. Hal itu tentu saja membuat Donald kecewa dan sempat tidak percaya diri.

Keluarga dan Donald terus mengupayakan pemulihan. Setelah operasi ketiga, Donald memutuskan kembali ke Amerika Serikat (AS), negara yang sudah lekat dengan kehidupannya. Maklum di sana dia pernah menghabiskan sebagian masa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ketika kuliah S1 di Burkeley University of California, Donald mendapatkan sebuah pencerahan. Kampusnya memiliki tim basket kursi roda. Namun ia belum bisa sekadar latihan bersama apalagi bergabung ke dalam tim.

Alih-alih mendapatkan harapan baru, dirinya malah mengalami penolakan karena tidak memenuhi kualifikasi disabilitas. Donald pun harus puas memperpanjang masa kecewanya.

Kegagalan itu membuka pintu lain. Saat melanjutkan S2 di Arizona State University, sarjana hukum itu memenuhi kualifikasi disabilitas. Awalnya cuma latihan bersama, tapi lama kelamaan Donald masuk tim dan dipercaya sebagai kapten tim universitas.

Selama dua tahun membela tim kampusnya, Donald mendapatkan tawaran bergabung dengan klub basket kursi roda bernama Phoenix Suns. Masa-masa bersama Phoenix Suns adalah pengalaman yang membentuk karakter Donald.

“Basket memberikan saya kepercayaan diri lebih. Entah mengapa saat berada di lapangan dan bermain basket saya merasa bisa melakukan segalanya,” ujar pria berusia 28 tahun itu.

Saat kembali ke Indonesia pada 2017, dia berkomunikasi dengan National Paralympic Committee (NPC) untuk membangun timnas basket kursi roda. Dia merasa Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara Asia lain terkait pengembangan olahraga basket kursi roda.

Dengan senang hati, NPC Indonesia menerima usulan Donald. Timnas akhirnya terbentuk, dan Donald Santoso didaulat menjadi kapten angkatan pertama.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena kami lah timnas basket kursi roda pertama di Indonesia. Kami harus jalan. Kami harus saling mendukung.” Ujar Donald sebelum Asian Para Games 2018.

Saat Asian Para Games 2018 berlangsung selama 6-13 Oktober, Donald dan kawan-kawan dibuat takjub oleh dukungan luar biasa para suporter. Meskipun timnas Indonesia belum mempersembahkan medali, tapi para pemain dan pelatih sangat tersentuh dengan antusiasme suporter Indonesia. (ist/kemenpora.go.id)

Bagikan artikel ini