Sapi Jersey Dibudidayakan di Jatim

Sapi Jersey Dibudidayakan di Jatim

Guna memenuhi kebutuhan susu yang semakin meningkat, sebanyak 346 ekor sapi Jersey dibudidayakan di Jatim. Susu sapi Jersey mempunyai kandungan yang lebih baik dibandingkan susu sapi lainnya. Kandungan lemaknya lebih tinggi, sehingga bagus untuk dibuat mentega atau keju.

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya, M Musyaffak Fauzi, dalam keterangannya, Selasa (13/3) mengatakan, berdasarkan American Jersey Cattle Association (AJCA), susu sapi Jersey mempunyai kandungan protein 15-20 persen lebih tinggi.

Selain itu mempunyai kandungan kalsium 15-18 persen lebih tinggi dan kandungan fosfor 10-12 persen lebih tinggi dibanding susu sapi yang lain termasuk kandungan vitamin B12.

Dalam hal produksi susu, sapi Jersey memproduksi susu jauh lebih tinggi perkilogram berat badannya dibanding sapi perah lain. Sapi perah Jersey ini mampu mencapai produksi susu 5000-9000 kg per ekor pertahun.

Sapi Jersey juga mempunyai daya adaptasi yang tinggi termasuk beradaptasi pada lingkungan yang panas atau tropis. Penelitian di Denmark menunjukkan bahwa sapi perah Jersey ini juga lebih tahan penyakit dibanding sapi perah yang lain.

Diceritakannya, Selasa (6/2) BBKP Surabaya memeriksa 346 ekor sapi Jersey dalam 38 crate, yang diimpor dari Australia dengan pesawat khusus Atlas Air. Sapi perah bibit ini diternakkan di desa Sirahkencong, Wlingi, Kabupaten Blitar.

Sesaat setelah mendarat di Bandara Internasional Juanda – Sidoarjo, petugas karantina yang terdiri dari Medik Veteriner, drh Kundoro dan drh Izzatul Istiana dan Paramedik Veteriner Agung Pamuji, Heru Sumarwibowo dan Erika Kusuma P melakukan pemeriksaan dokumen di atas alat angkut/pesawat.

Sapi kemudian diangkut menuju Instalasi Karantina Hewan (IKH) di Desa Sirahkencong, Wlingi – Blitar dengan dikawal oleh petugas karantina. Sebagai tindak lanjut pemasukan bibit sapi perah dimaksud, pada 8-9 Februari petugas karantina telah melakukan pengambilan sampel darah sapi, vaksinasi Septicaemia Epizootica (SE) dan pembuatan preparat ulas darah di IKH Wlingi. (jnr)

Bagikan artikel ini