Sarana Pembelajaran ala Hacksprint

Sarana Pembelajaran ala Hacksprint

Pemerintah kembali menegaskan komitmennya mendukung Program 1000 Startup Digital. Pemerintah serius mendorong program ini. Bahkan sedang dipersiapkan paket ekonomi mengenai e-commerce.

Hal ini disampaikan Dirjen Aplikasi Informatika Samuel Pangerapan pada acara Hacksprint 1000 Startup Digital di Grha Sabha Pramana Universitas Gajah Mada Jogja, Sabtu (22/10).

Samuel menjelaskan bahwa selalu ada gap antara pemerintah dengan pelaku bisnis. Oleh sebab itu perlu dibangun kerja sama pemerintah dengan komunitas dan pelaku bisnis.

“Antara pemerintah, pelaku bisnis dan komunitas harus saling memahami perspektif masing masing untuk mengembangkan ICT Indonesia.” jelas Samuel.

Terkait hal tersebut Samuel menyakini bahwa Hacksprint 1000 Startup Digital ini bisa menjadi sarana sharing dan mencari solusi.

“Saat ini kita masuk tahap ketiga yaitu Hacksprint. Ini bukan kompetisi tapi media untuk berbagi dan networking serta membuat teamwork untuk mengembangkan ekonomi digital Indonesia,” ungkapnya.

Hacksprint sendiri merupakan versi baru Hackathon yang dikemas lebih terstruktur dan terarah dengan menggunakan metode design sprint.

Dimana programmer akan membuat prototipe produk startup digital dengan langkah-langkah mulai dari understand, define, diverge, decide, prototype dan validate.

Hacksprint diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang langsung dapat digunakan, tapi produknya tervalidasi dimana hustler (marketing), hipster (desain grafis), dan hacker (developer) akan membuat purwarupa (prototype) produk startup digital.

Nantinya peserta dituntut memahami validasi bisnis dab bisnis model agar produknya mampu berkembang dan berkelanjutan.

Ditambahkan oleh salah satu mentor Fadli Wilihandarwo bahwa Hacksprint berbeda dengan metode Hackathon lainnya karena ada proses validasi produk.

“Hacksprint akan menggabungkan antara validasi produk dengan pembuatan produk jadi. Di sini setiap tim diharapkan mampu melihat suatu masalah dan dapat menciptakan produk yang spesifik,” tambahnya.

Menutup sambutannya Samuel berpesan Hacksprint ini bukan suatu kompetisi tapi pembelajaran bagi semua tim. “Kalau gagal, jangan kecewa tapi perlu dikembangkan lagi ide-idenya. Yang tidak lolos bukan berarti gagal tapi harus dianggap sebagai kesuksesan yang tertunda,” tutupnya. (sak)

Bagikan artikel ini