Sarkasme Nama Makanan di Surabaya

Sarkasme Nama Makanan di Surabaya

Gaya promosi produk makanan di Surabaya dengan bahasa sarkasme sedang berkembang pesat di Kota Pahlawan ini. Sebut saja Mie Pecun, Penyetan Cuk, Nasi Goreng Jancuk, dan sebagainya.

Kata Cak adalah panggilan akrab Suroboyoan yang artinya Mas atau Bang. Sedangkan Cuk adalah bahasa pisuhan atau umpatan bernada sarkasme yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Kota Surabaya.

Fenomena tersebut menarik minat tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) untuk menelitinya. Pasalnya, penamaan produk makanan dengan menggunakan bahasa sarkasme ini lambat laun semakin berkembang dan meluas.

Akhirnya, gejala sarkasme pada produk makanan menjadi fenomena umum di masyarakat perkotaan, khususnya Surabaya.

Tiga mahasiswa Unair yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKMP-SH) ini adalah Muhammad Fuad Izzatulfikri, Saharani Nurlaila Buamonabot, dan Khadijah Aufadina.

Hasil penelitiannya yang disusun dengan judul “Surabaya dan Gejala Sarkasme pada Produk Makanan” itu berhasil lolos seleksi dan menerima dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2017-2018.

Menurut Muhammad Fuad Izzatulfikri, ketua tim PKM-PSH ini, pendorong utama pengusaha makanan membuat terobosan dengan bahasa sarkasme (unik) itu adalah kerasnya tingkat persaingan. Hal ini dimaklumi karena Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia dengan kepadatan penduduk 2,6 juta jiwa.

”Sebagai tempat berdagang, berwisata dan bermigrasi, Surabaya menjadi area urbanisasi dan industri terbesar pertama di wilayah Jawa Timur. Pertumbuhan industri, perdagangan, serta budaya juga berkembang dibandingkan dengan wilayah lain, termasuk industri makanannya,” kata Muh Fuad.

Gaya bahasa sarkasme di Surabaya itu identik dengan bahasa umpatan atau pisuhan. Karena dianggap sudah akrab mengakar dan membudaya, bahasa sarkame digunakan dalam beberapa produk makanan. Salah satunya kedai makanan yang menawarkan berbagai macam produk makanan yang menunya ditawarkan menggunakan diksi sarkasme, misalnya Mie Pecun.

Beberapa nama unik di kedai Mie Pecun ini adalah Pecun Bahenol, Pecun Bugil, Pecun Mletek Suwek, Pecun Gatal, Pecun Beceks, dan Pecun Klomoh.

Selain mie, kedai ini menjual penyetan dengan nama-nama Miniset Ayam Alay, Miniset Pentol Jablay, Miniset Telor Brondong, dan Miniset Udang Ngondek.

Untuk menambah varian menu, pemilik juga menjual aneka cemilan seperti Pisang Ratus Keju, Roti Kempit, Tahu Rempong, Telur Kepo, dan Kentang Kentul Keju.

Menurut hasil wawancara dengan pemilik kedai Mie Pecun, faktor utama dipakainya nama-nama sarkasme pada produk makanannya, adalah semakin tingginya minat masyarakat terhadap kuliner sehingga tingkat persaingan variasi produk semakin kompetitif.

Faktor ini mengharuskan pedagang makanan kreatif dalam menjaga eksistensi usahanya. Salah satunya dengan menggunakan nama-nama unik dalam produk makanan yang ditawarkan.

”Jadi selain faktor persaingan, penggunaan nama sarkasme tidak terlepas dari kecenderungan masyarakat Surabaya yang sering berkomunikasi dengan basa Surabayaan sebagai bahasa interaksi serta sebagai bentuk pemilihan diksi sarkasme yang ada,” tambah Muh Fuad.

Seperti yang diucapkan oleh Yunani Prawiranegara dalam bukunya tahun 2004, sebagai daerah pesisir maka “basa Surabayaan” mewarisi budaya dan bahasa pesisiran sebagai bahasa transisi dari bahasa Jawa Majapahitan ke bahasa Jawa Baru Jawa Tengahan. Oleh karena itu, ada kesan “basa Surabayaan” itu kasar dan kurang mengindahkan bahasa Jawa yang standar.

Dalam “basa Surabayaan” terdapat bahasa interaksi berupa pisuhan, atau bentuk lain dari bahasa sarkasme yang penggunaannya menjadi sebuah kebiasaan, bentuk sapaan, dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Untuk menganalisis gaya bahasa sarkasme pada produk makanan di Surabaya ini tidak cukup jika hanya memahami maknanya, akan tetapi penafsiran terhadap makna harus ditafsirkan secara luas.

Jadi, lanjut Moh Fuad, penggunaan istilah sarkasme pada kedai makanan dan minuman ini bukanlah sebagai bentuk pisuhan dan umpatan yang sesungguhnya. Namun, fungsi dari adanya gaya bahasa sarkasme merupakan sebuah bentuk kreativitas belaka dari pemilik kedai untuk menarik minat konsumen. (ita)

Bagikan artikel ini