Sarolangun dan Merangin Kini Terang

Sarolangun dan Merangin Kini Terang

Masyarakat Provinsi Jambi patut berbahagia setelah resmi beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin. Setelah puluhan tahun masyarakat belum mendapatkan akses listrik, kini masyarakat setempat sudah terbebas dari kegelapan.

“Atas nama Pemerintah saya merasa bahagia hari ini bisa bersama warga dari empat desa yang ada di dua Kabupaten Sarolangun dan Merangin bisa menyaksikan untuk pertama kalinya ke empat desa ini menikmati listrik,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala BAPPENAS Bambang Brodjonegoro.

Bambang saat meresmikan pembangunan dan revitalisasi PLTMH yang dipusatkan di Desa Lubuk Bangkar, Kecamatan Batang Asai, Sarolangun, Rabu (5/9), mengharapkan keberadaan listrik mampu dimanfaatkan secara optimal oleh warga sehingga mampu mempercepat perkembangan ekonomi masyarakat setempat.

“Listrik harus menjadi nilai tambah perokonomian, seperti penggilingan kopi, kakau ataupun karet. Kalau ada nilai tambah, maka kesejahteraan akan meningkat. Dengan begitu, saya berharap kemiskinan di provinsi Jambi makin lama makin hilang,” cetus Bambang.

Pembangunan dan revitalisasi PLTMH ini merupakan bagian dari program pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) dan Pemerintah Provinsi Jambi.

Pembiayaan program ini menerapkan model keuangan gabungan atau blended finance antara sumber dana dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebesar USD 350.000 atau sekitar Rp 4,8 miliar dan Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Jambi sebesar USD 281.386 atau sekitar Rp 3,76 miliar.

“Ini adalah suatu perpaduan komitmen umat, global dan lokal yang indah yang akhirnya memberikan manfaat untuk masyarakat yang sangat membutuhkan,” tegas Bambang.

Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Ditjen EBTKE Noor Arifin Muhammad mengatakan keberhasilan model pembiayaan PLTMH di Provinsi Jambi akan direplikasikan untuk pembangunan proyek EBT serupa di berbagai wilayah Indonesia. “Kuncinya adalah adanya sosial entrepreneur. Ini bisa menjadi model dalam membangun infrastruktur EBT lain,” ujar Noor.

Sambutan positif juga disampaikan Deputy Country Director UNDP di Indonesia Shopie Kemkhadze. Program ini sesuai dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Suistanble Development Goals/SDGs) bidang energi yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial serta pemberdayaan ekonomi lokal.

“Ini adalah contoh pertama bagaimana kemitraan inklusif antara komitmen Pemerintah, UNDP, dana BAZNAS dan CSR Bank Jambi dapat memberdayakan masyarakat lokal dan berkontribusi pada pencapaian SDGs. Akses listrik menjadi pondasi untuk kehidupan yang lebih baik. Sekarang anak-anak bisa belajar lebih lama,” kata Sophie.

Tak hanya desa Lubuk Bakar, tiga desa lain di Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, yaitu Desa Air Liki, Air Liki Baru dan Ngaol juga sudah kembali menikmati listrik secara normal peremajaan atau revitalisasi PLTMH dengan kapasitas 40 kW.

Revitalisasi PLTMH Air Liki dan Air Liki Baru meliputi pembangunan bendung baru permanen, penambahan pipa penstock, perbaikan generator, panel kontrol dan ballast load. Sementara, revitalisasi PLTMH Ngaol ditambah dengan pergantian turbin, pembangunan rumah turbin.

Desa Air Liki sendiri sudah terelektrifikasi sejak tahun 2013. Namun, pengoperasian PLTMH tidak dapat beroperasi secara optimal lantaran rusaknya generator pembangkit.

“Listrik masuk ke Air Liki dari tahun 2012 dari bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM),” ujar Kepala Desa Air Liki, Pulpi Marlinton.

Pulpi menceritakan, masyarakat Air Liki dulu kerap mengalami kesulitan mendapatkan akses listrik di musim kemarau akibat debit air sungai yang terus berkurang sehingga tak sanggup menjalankan turbin dengan baik. “Dulu musim kemarau selama dua bulan sudah mati lampu. Tapi sekarang sudah normal,” imbuhnya.

Kondisi serupa juga dialami oleh masyarakat Air Liki Baru. Demi mengantisipasi kerusakan serupa dari proses revitalisasi ini, pemerintah desa setempat masih memberlakukan jam pengoperasian listrik yang sama, yaitu listrik menyala pukul 4 sore sampai 8 pagi. “Kecuali hari Jumat dan hajatan desa, listrik nyala sepanjang hari,” ujar kepala Desa Air Liki Baru Husni Syadri.

Agar kejadian serupa tidak terulang kembali, Bambang mengharapkan masyarakat tetap menjaga lingkungan demi menciptakan aliran listrik yang stabil meski di musim kemarau.

“Kita semua harus benar-benar bisa menjaga sustainability dari sumber daya air dan kualitas lingkungan airnya. Meskipun ini EBT akan ada terus, kalau tidak ditangani dengan benar, kalau kita melakukan pencemaran lingkungan, maka sumber daya airnya tidak akan bermanfaat,” pesan Bambang.

Keberadaan listrik di Desa Air Liki sendiri sangat membawa berkah bagi kelancaran proses belajar mengajar. “Setidaknya sekarang sudah bisa buat fotocopy buat anak-anak belajar,” tandasnya.

Sementara, masyarakat Air Liki Baru masih menunggu saran dari operator PLTMH terkait penggunaan listrik di luar pemakaian untuk kebutuhan rumah tangga. “Kami menunggu arahan dari UNDP apa listrik ini bisa dibisniskan. Kalau bisa akan kita lakukan, tapi kalau tidak bisa kami tetap bersyukur,” kata Husni.

Senada dengan Pulpi, Kepala Desa Ngaol Subhan mengakui manfaat yang besar dari keberadaan PLTMH. “PLTMH ini sangat membantu ekonomi dari masyarakat kecil hingga menengah. Kami sangat terbantu sekali,” ujar Subhan.

Keberadaan PLTMH tersebut mampu memberikan akses listrik pada 4.448 orang dari 803 rumah tangga di empat desa Kabupaten Sarolangun dan Merangin. Hal ini dapat membantu mempercepat target rasio elektrifikasi yang ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 2019 sebesar 99,99%.

Petugas Pelaksana (Plt) Gubernur Jambi Fachrori Umar merinci rasio elektrifikasi Provinsi Jambi saat ini mencapai 95,55%, sedangkan rasio desa berlistrik sebesar 94,49%. Guna memenuhi target yang ditetapkan, pendekatan yang ditempuh adalah melalui penyediaan energi listrik yang bersumber dari PLN dan penyediaan energi listrik Non PLN dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan.

“Pembangunan PLTMH seperti di Lubuk Bangkar ini merupakan terobosan atau solusi untuk mengatasi penyediaan energi listrik di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh PLN,” tegas Fachrori.

Berdasarkan data PLN, Provinsi Jambi masih membutuhkan pembangunan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 794,48 Kilo Meter Sirkuit (KMS) dan Jaringan Tegangan Rendah sepanjang 709,71 KMS. “Untuk menyelesaikan pembangunan tadi diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp450 miliar rupiah,” ungkap Fachrori. (ist)

Bagikan artikel ini