Sebulan Kuasai Lagu dan Tarian Banyuwangi

Sebulan Kuasai Lagu dan Tarian Banyuwangi

Mahasiswa asing program Bea Siswa Budaya Indonesia (BSBI) telah genap satu bulan berada di Banyuwangi. Beberapa tarian dan musik khas Banyuwangi serta kosakata bahasa Osing telah mereka kuasai berkat latihan tiap hari yang tak kenal lelah di bawah asuhan pemilik sanggar Sayu Gringsing, Subari Sofyan dan tim.

Seperti pemandangan yang terlihat Selasa (1/4) lalu di gedung Wisma Atlet di Kawasan Gelanggang Olah Raga (GOR) Tawangalun Banyuwangi. Mereka berlatih dengan semangat, lengkap dengan pakaian adat Banyuwangi yang mereka kenakan. Mereka pun tampak nyaman dan tidak canggung sama sekali meski harus melakukan gerakan-gerakan yang lincah.

Di tangan mereka terdapat beberapa alat musik seperti saron, angklung, gamelan, slentem, patrol, jidor, gong dan terbang. Sejumlah alat musik asli Banyuwangi itu dimainkan secara bergantian dengan rancak sebagai musik pengiring tarian dan lagu yang mereka bawakan. Mulai dari Padang Ulan, Impen-impenen, hingga lagu dangdut Jaran Goyang.

Mereka juga mengkombinasikannya dengan official song piala dunia tahun 1998 berjudul La Copa de La Vida yang dipopulerkan oleh Ricky Martin, hanya saja liriknya mereka ubah.

Para mahasiswa ini memiliki keahlian masing-masing. Ada yang mahir di bidang musik. Junior Toffi dari Benin, Afrika yang pandai memainkan saxophone, diberi kesempatan mengiringi kawannya yang menyanyikan lagu Impen-impenen.

Sementara peserta yang lain yang awalnya tidak bisa, karena terus belajar, akhirnya menjadi pandai. Arzu Muradova salah satunya. Mahasiswa asal Azerbaijan ini yang semula tak tahu sama sekali bagaimana cara memainkan gamelan, kini sudah terlihat mahir. Arzu tampak menikmati setiap ketukan yang ia pukulkan pada tiap-tiap bilah pada gamelan.

“Saya senang bisa belajar gamelan dan alat musik lainnya di sini. Di sini budayanya menarik sekali dan sangat berbeda dengan di Eropa. Pokoknya pulang dari sini saya mau promosikan budaya Banyuwangi di negara saya,” kata Arzu yang juga jago menarikan tari Gandrung dan Sunar Udara ini.

Selain Arzu, rekannya yang lain seperti Custodio Dos Santos e Silva. Mahasiswa asal Timor Leste yang akrab disapa Enato ini juga asyik dengan angklungnya. Bahkan di sela rehat latihannya, Enato main angklung sendiri sambil menyanyikan lagu Impen-Impenen. Enato merupakan satu di antara peserta yang kemampuannya dalam berbahasa Osing paling bagus.

Melihat progress anak didiknya, Subari Sofyan mengaku sangat senang. “Pencapaian mereka semua ini karena mereka tekun berlatih. Semua memulai dari nol. Saya sangat bangga dengan mereka,” kata Subari.

Anak didiknya ini, ujar Subari, setiap harinya memulai kegiatan belajarnya sejak jam 9 – 11 dengan pelajaran musik. Dilanjutkan dengan pelajaran tari dan bahasa Osing yang diselang-seling dengan bahasa Indonesia.

Malam hari adalah jam bebas. Namun bagi mereka yang masih merasa ada kekurangan di satu bidang, dipersilahkan untuk memanggil gurunya dan belajar secara privat.

Subari menjelaskan, apa yang mereka pelajari dari budaya Banyuwangi ini, nantinya akan ditampilkan dalam ajang Indonesia Channel (Inchan) di Jakarta pada Juli mendatang. Di ajang tersebut mereka akan menampilkan yang terbaik, berkompetisi dengan mahasiswa BSBI lainnya yang ditempatkan di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Yogyakarta, Padang, Kutai Kartanegara, Bali dan Makassar. “Saya optimis mereka akan menjadi yang terbaik,” ujar Subari.

BSBI sendiri merupakan program beasiswa tahunan pemerintah Indonesia yang menjaring mahasiswa berpotensi dari seluruh dunia untuk diberi kesempatan mempelajari budaya Indonesia. Mahasiswa yang ditempatkan di Banyuwangi sebanyak 12 orang.
Mereka antara lain berasal dari Azerbaijan, Timor Leste, Bulgaria, Kamboja, Fiji, Benin, India, Singapura, Thailand, Jepang, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Mereka dijadwalkan belajar budaya Banyuwangi selama 3 bulan. (sak)

Bagikan artikel ini