Sisi Lain Prostitusi Lewat “Grey Chicken”
KOMUNITAS PERISTIWA

Sisi Lain Prostitusi Lewat “Grey Chicken”

Pusat Penerbitan dan Percetakan (Pusbitek) Universitas Airlangga kembali menerbitakan buku dengan judul Grey Chicken, yang merupakan karya Guru Besar FISIP Unair Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi.

Dilaksanakan di Aula Amerta Kampus C UNAIR, bedah buku Grey Chicken tersebut langsung dibuka Ketua Pusbitek Unair Drs Aribowo MS. Dalam sambutannya, mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya tersebut menuturkan bahwa buku Grey Chicken merupakan hasil riset yang mendalam mengenai sisi lain kehidupan pelajar Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Ini adalah riset dari sahabat saya. Ini penelitian nyata di lapangan. Mereka yang terjerumus bayangan kita umumnya adalah mereka yang berasal dari keluarga broken ataupun miskin. Tapi dari riset ini ditemukan bahwa profesi itu juga dilakukan mereka dari keluarga kalangan agama maupun orang kecukupan,” terangnya. “Ini fakta kita. Kenapa penting tahu? Agar melalui diskusi ini kita lebih perhatian dengan anak-anak kita,” tegas Ari.

Hadir sebagai pembedah yakni Kukuh Yudha Karnanta SS MA, selaku dosen FIB Unair. Pada paparan awalnya, Kukuh mengatakan bahwa saat membaca buku tersebut ia mencoba kembali mengingat memori semasa SMA. Baginya, dunia SMA dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda, terlebih dengan hadirnya beragam kecanggihan teknologi.

Selanjutnya, Kukuh juga menyatakan bahwa isi dari buku tersebut berangkat dari data di lapangan. Hal itu juga ditunjukkan dengan data bahwa Kota Surabaya menjadi salah satu basis Grey Chicken terbesar di Indonesia. Namun, bagi Kukuh hal yang menarik dari buku tersebut adalah fokus dari hasil riset Prof Bagong.

“Fokus buku ini ada pada latar belakang ekonomi, bentuk eksploitasi, dan modus-modus yang dikembangkan mucikari untuk mengikat korban,” terangnya. “Dan buku ini bukan sekedar asumsi tapi berdasarkan wawancara,” tegas Kukuh.

Diakhir, Kukuh juga kembali menegaskan bahwa untuk melihat dan memahami fenomena Grey Chicken, buku karya Prof Bagong sudah lebih dari cukup. Meski demikian, Kukuh juga tidak mengindahkan adanya sedikit kekurangan yang ada dalam buku tersebut.

“Untuk memahami tentang kehidupan Grey Chicken dengan buku ini sudah lebih dari cukup. Meski memang dalam sebuah penelitian tidak mungkin mencakup semua hal,” pungkasnya. (sak)