Solusi Kemandirian Energi Wamen ESDM

Solusi Kemandirian Energi Wamen ESDM

Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang besar. Namun sayang, saat ini Indonesia tengah was-was terhadap ketersediaan energi.

Hal itulah yang disampaikan Arcandra Tahar M Sc PhD, Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI dalam acara talkshow yang diselenggarakan Ikatan Alumni (IKA) ITS Sabtu, (29/10).

Pada acara itu, Arcandra memberikan pemaparan bertema Kemandirian Energi Sebagai Penguatan Nasional.

Memulai paparannya, Arcandra menjelaskan, pada tahun 2014, jumlah energi yang mampu diproduksi Indonesia empat kali lebih besar dari biasanya.

Dan tahun 2016, jumlah minyak yang dapat produksi ialah sekitar 40-50 persen. Sedangkan 50-60 persen masih tertinggal dalam perut bumi.

“Jika tren ini terus berlanjut dan produksi minyak dunia menurun artinya suatu saat Indonesia tidak akan mampu memproduksi minyak lagi,” ungkapnya.

“Tidak memproduksi minyak bukan berarti minyak bumi habis, tetapi butuh teknologi untuk mendapatkannya,” imbuhnya. Meskipun suatu saat ditemukan teknologi baru, kemungkinan produksi minyak hanya bertahan hingga puluhan tahun ke depan.

Hal ini menjadi sulit dicapai mengingat biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sangatlah mahal.

“Bayangkan saja untuk menggali empat sumur membutuhkan dana Rp 13 triliun, padahal belum tentu sumur tersebut menghasilkan minyak. Cukup beresiko,” tandas pria asal Padang tersebut.

Ketersediaan energi ini erat kaitannya dengan kemandirian bangsa. Di mana kemandirian bangsa akan terbentuk apabila negara sudah mampu membangun kemandirian energi.

Untuk membangun kemandirian energi ada tiga pilar yang penting. Yakni, sumber daya alam, kedaulatan energi dan investasi asing.

Sumber daya alam yang dimaksud ialah pengelolaan sumber daya alam yang fokus pada kebermanfaatan, bukanlah pendapatan. Salah satu caranya memperpanjang rantai menuju produksi.

“Contohnya produksi migas hasilnya diolah ke Industri Petrochemical untuk dijadikan pupuk. Hal ini akan memberikan nilai tambah yang lebih terhadap migas itu sendiri,” jelas pria kelahiran 1970 tersebut.

Kedaulatan energi dicapai dengan kemandirian energi. “Kemandirian energi berarti apakah kita bisa berkesepahamaan bahwa kita bisa menjamin sumber energi dimanfaatkan dalam rangka menunjang kedaulatan energi,” ujarnya.

Kedaulatan energi sendiri memiliki empat faktor, yakni energy security atau tidak menempatkan energi di luar negeri dan energy avaluability yang berarti energi harus terjangkau oleh masyarakat.

“Hal ini sering kita dengar sebagai konsep BBM satu harga,” tuturnya. Dua lainnya ialah energy accesibility, di mana energi harus mudah di akses masyarakat. Dan terakhir energy sustainibility yang berarti keberlanjutan dari energi itu sendiri.

“Faktor penting lain adalah Investasi asing. Dengan adanya investasi asing ini dapat meningkatkan ekonomi Indonesia, mendorong industri dalam negeri untuk bersaing mencapai spesifikasi terbaik,” jelasnya.

Untuk mencapai kemandirian bangsa, ada tiga pilar juga yang perlu diperhatikan, yakni bisnis proses, teknologi dan orang/ sumber daya manusia. “SDM perlu mempunyai ilmu, kompetensi dan pengalaman yang baik,” terangnya, (sak)

Bagikan artikel ini