Sosok Perempuan Inspiratif Indonesia

Sosok Perempuan Inspiratif Indonesia

Sejak berabad-abad lamanya, perempuan selalu dianggap sebagai subordinat di bawah laki-laki. Namun seiring perkembangan zaman yang semakin modern, perempuan mulai memberikan suara agar mendapatkan kesetaraan gender.

Hal tersebut melatarbelakangi Kementerian Pengabdian Masyarakat (PENGMAS) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga menggelar seminar dan talkshow bertajuk “Women Hero: The MOMent with Women Hero” di Aula Garuda Mukti pekan lalulalu.

Dosen FIB UNAIR Listiyono Santoso MHum menyampaikan bahwa sejak kecil pola literasi masyarakat membentuk bahwa memang sudah kodratnya perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti yang ditulis dalam berbagai buku penunjang sewaktu Sekolah Dasar.

“Hari ini kita akan mencoba belajar bagaimana perempuan-perempuan yang menjadi teladan itu mengisahkan kisah hidupnya, memberikan pencerahan pada kita,” tuturnya.

Sementara Hafsoh Mubarak, Ketua Surabaya Creative Network menyampaikan terkait peran perempuan sebagai pemegang perekonomian dunia. Menurut Hafsoh, perempuan selalu menjadi sosok yang dinomorduakan. Ia menceritakan pengalamannya menjadi satu-satunya perempuan yang menyampaikan pidato di Jakarta.

Meski memiliki budaya yang berbeda, menurut Hafsoh, masyarakat di Surabaya tidak mengganggu satu sama lain. Hal tersebut dikarenakan adanya sosok keibuan dalam sikap kepemimpinan yang tidak hanya menggunakan otak, melainkan hati pula.

Tidak hanya Hafsoh, acara juga menghadirkan para penerima Women Hero yang terdiri dari Ira Suarilah, Ummu Tukmiyati, Susilaningsih MM dan Amira Bilqis. Para penerima Women Hero berbagi cerita tentang kehidupan sebagai pendonor asi, pemberdaya anak yatim, janda, dan dhuafa, pengusaha aneka sambal, dan pengelola komunitas.

Acara dilanjutkan dengan mendatangkan pembicara Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan istri Bupati Bojonegoro Dra Hj Mahfudhoh Suyoto MSi. Keduanya menceritakan pengalaman yang berbeda terkait kontribusi keduanya di lingkungan sosial.

Mahfudhoh mengungkap bahwa dirinya telah menjadi contoh masyarakat. Baginya, seorang pemimpin haruslah bersikap sesuai dengan yang diucapkan.

Sedangkan Risma membagikan pengalamannya selama menjadi walikota dan bertemu orang-orang penting di luar negeri. Dalam sesi ini, Risma mengatakan sempat diremehkan oleh wakil walikota suatu negara yang juga seorang perempuan, namun berhasil membalas kesombongan tersebut.

“Tidak ada yang tidak mungkin. Kalau kita ingin maju, kaum perempuan ini, nggak usah kita minta privilege. Kadang memang orang meremehkan kita, tapi kita nggak usah bersikap seperti minta keistimewaan,” tutur Risma.

Panel selanjutnya, yakni talkshow spesial menghadirkan Maudy Ayunda, aktris, penyanyi dan lulusan Universitas Oxford. Maudy diminta menceritakan pengalaman selama menjadi mahasiswa universitas terkemuka di Inggris sekaligus motivasi belajarnya.

Ia mengungkap bahwa motivasinya yang utama adalah orang-orang yang meremehkannya karena latar belakangnya yang seorang selebriti.

“Aku dulu sempat mikir, jangan-jangan kalau aku nggak mendorong diri aku untuk membuat pilihan-pilihan yang mungkin sulit, aku akhirnya nggak tertantang dan mungkin aku nggak bisa masuk Oxford,” pungkas pelantun tembang Perahu Kertas tersebut.

Seminar ditutup pada panel terakhir dengan tema feminimitas dengan mendatangkan Dr Prihartini Widiyanti drg SSi MKes CCD, Prof Dr Emy Susanti MA dan Dra Esthi Susanti Hudiono MSi. Para pembicara diminta memberikan materi mengenai idealisme dan nilai menjadi perempuan seutuhnya. (yul)

Bagikan artikel ini