“Spirit Potret” Buat Basoeki Abdullah

“Spirit Potret” Buat Basoeki Abdullah

Museum Basoeki Abdullah akan menggelar pameran lukisan bertajuk “Spirit Potret”. Sejumlah 25 karya dari 19 perupa akan dipamerkan dalam pameran yang akan berlangsung dari tanggal 25 September sampai 25 Oktober mendatang.

Agus Darmawan selaku kurator mengatakan, pameran lukisan ini adalah upaya menghidupkan kembali karya-karya Basoeki Abdullah. Di mana yang menjadi fokus utamanya adalah energi yang ada di balik karya-karya sang maestro.

“Basoeki dianggap sebagai salah seorang pelukis potret paling fenomenal di Indonesia dan berbagai negara. Secara pribadi ia dikenal sebagai seorang yang nasionalis. Ia memiliki kedekatan dengan manusia dan mempunyai kehendak kuat untuk melukis manusia atau tokoh,” jelas Agus dalam acara temu media, awal pekan di Jakarta.

Melalui pameran ini pula, lanjut Agus, masyarakat diajak untuk mengenal kembali sosok Basoeki Abdullah. Bukan hanya melalui karya-karyanya saja, tetapi juga museum dan sisi lain dari seorang Basoeki Abdullah.

Karya-karya yang ditampilkan 19 perupa dalam pameran nanti merupakan interpretasi dari karya Basoeki. Para perupa diminta untuk menggubah potret Basoeki dengan gaya dan caranya masing-masing.

Meski para perupa bebas menafsirkan dan memasukkan narasi ke dalam karya-karyanya, namun basis realisme tetap menjadi acuan yang harus ada dalam lukisan yang dibuat.

Tema “Spirit Potret” kemudian diinterpretasikan para perupa ke dalam wujud lukisan yang menghibur dan menggelitik. Puluhan lukisan itu dikemas ke dalam berbagai macam aspek seperti karikatur, sketsa, parodi, hingga sosial budaya.

Ayung, salah satu perupa yang juga hadir dalam temu media ini misalnya, mengaku sangat mengagumi Basoeki sejak tahun 1990-an. Beberapa karyanya, diakuinya terinspirasi dari karya-karya Basoeki. Pada pameran nanti, Ayung akan menampilkan dua karya yang berjudul “Tomorrow Will be Better” dan “Pride”.

Lukisan “Tomorrow Will be Better” diakuinya terinspirasi dari lukisan Basoeki berjudul “Tujuh Bidadari”. Menariknya, Ayung menginterpretasikan ketujuh bidadari tersebut dengan orang utan.

“Saya mengubah lukisan Pak Basoeki menjadi orang utan, karena saya ingin membuat parodi dari penggambaran kondisi saat ini, salah satunya bisa dilihat ada orang utan yang sedang selfie,” jelasnya.

Ayung juga menjelaskan bahwa menginterpretasikan objek asli menjadi orang utan tidak bermaksud ingin mengeksploitasi, namun ingin mengenalkan satwa langka tersebut kepada masyarakat luas.

“Saya adalah salah satu anggota komunitas pecinta orang utan di Borneo. Sebetulnya saya menggambar orang utan itu adalah parodi karena orang utan DNA nya 97% mirip manusia, tapi untuk event ini saya banyak melihat foto-foto gaya Pak Basoeki modis sekali. Itu saya parodikan melalui pose-pose favorit Pak Basoeki yang ditirukan orang utan berkumpul dalam satu becak,” tambahnya.

Kegiatan Pameran Temporer 2018 dengan tema potret merupakan salah satu sarana penyebaran informasi, sebagai upaya memberikan pemahaman tentang arti penting peran Museum Basoeki Abdullah dan pelukis Basoeki Abdullah dalam dunia seni rupa Indonesia.

Melalui pameran ini, diharapkan dapat mengenalkan museum dan pribadi Basoeki Abdullah itu sendiri melalui hasil karya dan keilmuan sang maestro bagi dunia Pendidikan dan perkembangan seni rupa Indonesia. (ist)

Bagikan artikel ini