Subhan, Sang Pengamat Gunungapi Bromo

Subhan, Sang Pengamat Gunungapi Bromo

Menjadi seorang pengamat gunungapi bukanlah cita cita Achmad Subhan (34) lulusan Teknik Informatika dari sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Awalnya, menjadi programmer adalah cita-cita yang didambakan Subhan.

Namun Seiring berjalannya waktu, kecintaan Subhan pada pekerjaan sebagai pengamat gunungapi terus tumbuh. Perlahan tapi pasti, kecintaan itu yang membawa subhan menjadi seperti sekarang ini, Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Bromo.

Bersama Wahyu, Budi dan Syafii, Subhan bergantian memantau aktivitas Gunungapi Bromo selama 24 jam tanpa henti. Informasi aktivitas vulkanik Gunungapi Bromo ini kemudian disebarluaskan kepada instansi terkait dan masyarakat.

Mulai pukul 06:00 WIB Subhan mengawali hari dengan mengamati secara visual Gunungapi Bromo. Pukul 07:00 WIB hasil pengamatannya dilaporkan ke Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Setiap pagi kita jalan ke atas mengamati secara visual dan mengambil foto aktivitas Gunung Bromo. (Dilihat) tebal asapnya, arahnya kemana dan besar tekanannya. Hasil pemantauan langsung kita masukkan ke aplikasi MAGMA,” ujar Subhan seperti dilaporkan Humas Kementerian ESDM RI di Pos PGA Bromo, di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisaring, Kecamatan Sukapara, Probolinggo, beberapa waktu lalu.

Usai melakukan pengamatan visual, selanjutnya Subhan memantau aktivitas kegempaan Gunungapi Bromo menggunakan peralatan seismograf. Hasilnya dianalisa dan dilaporkan kembali ke PVMBG.

Menyelesaikan urusan pribadi bukan menjadi hal yang pertama dilakukan Subhan. Menurutnya kewajiban melaporkan aktivitas gunung adalah yang utama.

“Selesai melaporkan status aktivitas vulkanik Gunung Bromo, baru kita memulai aktivitas pribadi, mandi, memasak dan sarapan,” lanjut Subhan.

Tidak berhenti sampai di situ, aktivitas subhan berlanjut dengan membuat dan menganalisa grafik deformasi (mengembung dan mengempisnya gunung) serta mengumpulkan seluruh aktivitas gunung dalam sebuah basis data untuk keperluan analisa jangka panjang Gunungapi Bromo.

Dalam menjalani profesi sebagai Pengamat Gunungapi, banyaknya wisatawan maupun masyarakat yang tidak mematuhi batasan kawasan rawan bencana yang sudah ditentukan oleh PVMBG menjadi tantangannya. Tak jarang, rasa cemas dan khawatir akan bahaya yang menimpa wisatawan menghantui dirinya saat bertugas.

“Gunung Bromo saat ini dalam status Waspada, tapi banyak masyarakat dan wisatawan yang tidak mengindahkan radius aman Gunung Bromo, yakni 1 km dari kawah. Itu salah satu tantangan yang dihadapi petugas pengamatan. Menurut mereka (wisatawan), belum ke Gunung Bromo kalau belum sampai ke kawah,” ujar Subhan.

Subhan adalah bagian dari 200 orang pengamat gunungapi yang ada di 67 pos pengamatan di seluruh Indonesia. Tanpa lelah mereka mendedikasikan dirinya untuk terus bekerja selama 24 jam di tengah kesunyian.

Rasa rindu untuk bertemu keluarga pun terkadang harus mereka pendam lama. Bagi Subhan dan kawan-kawan, memantau aktivitas dan melakukan mitigasi bencana gunungapi demi keselamatan masyarakat adalah yang utama. (ist)

Bagikan artikel ini