Suko Widodo: Karena Hedon dan Serba Instan

Suko Widodo: Karena Hedon dan Serba Instan

Kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi ‘Si Pengganda Duit’ yang kini tengah merebak di berbagai media massa menarik dikaji. Pelbagai pandangan dan pendapat masyarakat muncul untuk menanggapi fenomena yang sukses mencuri perhatian publik tersebut.

Dalam diskusi rutin bulanan di Ruang Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga, Selasa (04/10) pagi, persoalan ini dijadikan topik bahasan. Ketua PIH Suko Widodo mengatakan, budaya hedon dan ogah kerja keras menjadi faktor utama penyebab banyaknya orang tergiur dengan iming-iming tak masuk akal.

“Sebagian orang berpikir meraih kekayaan dengan cara yang instan,” ungkap lelaki yang juga pakar komunikasi tersebut.

Ditambahkan lelaki asal Madiun tersebut, media massa memiliki andil besar menumbuhkan kultur dekonstruktif yang dimaksud.

Lihatlah di televisi, ada begitu banyak tayangan, baik sinetron maupun iklan, yang begitu gampang menunjukkan gaya hidup hedonis. Para aktor ditampilkan sebagai orang yang kaya tanpa proses yang jelas. Suka bersenang-senang, dan hidupnya langsung bahagia.

Iklan produk menampilkan hal-hal yang serba instan. Mereka yang mau cantik, sehat, pintar, bisa memperolehnya dengan cara gampang. Hanya dengan mengonsumsi produk yang dimaksud.

Apa yang disampaikan melalui media massa itu, berpotensi masuk ke alam bawah sadar manusia dan memengaruhi karakternya. “Kalau di ranah pendidikan, para mahasiswa yang suka copy paste saat membuat tugas kuliah, termasuk golongan orang-orang yang malas seperti ini,” ungkap pria yang baru dilantik sebagai Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jawa Timur tersebut.

Budaya-budaya tadi semakin mudah merangsek ke kehidupan manusia karena dibantu dengan kemajuan teknologi. Jejaring sosial dan internet sudah membuat banjir informasi. Bahkan, sampai di tingkat ‘overload’.

Untuk menyikapi persoalan di atas, salah satu hal yang mutlak diperlukan adalah pemimpin brilian. Yakni, pemimpin yang sanggup memberikan teladan dan tak hanya pandai berbicara, apalagi menebar janji belaka.

Pemimpin tersebut mesti sanggup memberi contoh tentang etos kerja. Lantas, menggerus paradigma jalan pintas. “Indonesia butuh teladan yang holistik. Pemimpin yang ‘sahaya’ dan tidak rakus kekuasaan. Pendidikan moral kehidupan dan penegakkan hukum juga selalu menjadi faktor utama untuk mewujudkan negara berkeadilan,” papar Suko.

Di sisi lain, negeri ini juga perlu bergerak dengan akselerasi maksimal di segala bidang. Sehingga, tidak melulu menjadi pasar dan berpredikat sebagai konsumen. Untuk itu, pemimpin yang berjiwa besar dan sanggup bersaing sangat dibutuhkan.

“Indonesia butuh teladan. Di bagian lain, harus ada perubahan perspektif nilai kesuksesan dari material ke spiritual. Sebab, sudah terbukti, banyak wawasan material yang menjerat pikiran anak muda,” kata Suko yang juga pegiat demokrasi dan kebangsaan tersebut. (sak)

Bagikan artikel ini