Lini Depan Penanggulangan Bencana

Lini Depan Penanggulangan Bencana

Menteri Sosial Idrus Marham meminta Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Indonesia menjadi front liner dalam penanggulangan bencana di Indonesia.

“Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, bahwa Negara harus memastikan seluruh korban bencana tertangani dengan baik, maka saya minta TAGANA Indonesia terus menjaga semangat dan terus berkarya sesuai dengan tema tahun ini yakni 14 Tahun Mengabdi Momentum Untuk Meningkatkan Karya Nyata Bagi Negeri,” kata Mensos saat memberikan arahan dalam acara puncak HUT TAGANA ke-14 yang berlangsung di Lapangan Logending Pantai Ayah Kebumen, pekan lalu.(2/4).

Dalam pidatonya dihadapan sekitar 2.000 relawan kemanusiaan ini, Mensos menyampaikan dan menegaskan apresiasi dan rasa bangganya kepada Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Indonesia atas kerja keras dan kerja ikhlasnya dalam penanganan kebencanaan di Indonesia.

“Saya bangga dan bahagia berdiri di depan para relawan kemanusiaan yang senantiasa mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain. Tak terhitung kiprah telah dilakukan TAGANA yang berdiri pada 2004 lalu. Kehadiran saudara di tengah masyarakat sebagai the first to help and care telah nyata dirasakan oleh masyarakat,” kata Mensos.

Mensos mengatakan TAGANA merupakan potensi yang sangat berharga bagi Kementerian Sosial RI terutama dalam menerapkan pratek penanggulangan bencana berbasis masyarakat.

Dikatakannya, Indonesia memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi di Asia Tenggara. Untuk itu, diperlukan kesiapsiagaan semua unsur masyarakat agar bisa mengurangi dampak bancana dan korban jiwa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melansir, sejak awal 2017 sampai 4 Desember 2017, terdapat 2.175 kejadian bencana di Indonesia dengan jumlah korban meninggal mencapai 335 orang, korban luka-luka sebanyak 969 orang, dan korban mengungsi dan menderita sebanyak 3,22 juta orang.

Sementara itu berdasarkan Data Markas Komando TAGANA Training Centre Sentul Bogor Jawa Barat, sepanjang Januari dan Februari 2018 telah terjadi sebanyak 224 bencana alam di Indonesia, jumlah ini meningkat dibanding periode yang sama tahun 2017 sebanyak 115 bencana alam.

Dari total 224 bencana alam tersebut, terbagi 36 bencana gempa bumi, 59 bencana banjir, 34 bencana tanah longsor, 68 bencana puting beliung, 26 bencana kebakaran, dan satu bencana erupsi Gunung Sinabung.

Bencana alam sepanjang Januari–Februari 2018 merenggut nyawa 29 orang meninggal, 33 orang luka berat, 39 orang luka ringan, 1.829 orang mengungsi. Bencana juga menyebabkan 1.662 unit rumah rusak berat, 3.583 rumah rusak sedang, dan 6.459 rumah rusak ringan, dan korban terdampak sebanyak 146.794 Kepala Keluarga (KK).

TAGANA merupakan relawan sosial atau Tenaga Kesejahteraan Sosial berasal dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial. Tagana pertama kali dikukuhkan pada 24 Maret 2004.

Dalam melaksanakan tugasnya, satu jam setelah bencana TAGANA harus berada di lokasi bencana. Hal ini telah menjadi komitmen seluruh personil TAGANA dan telah dibuktikan dengan kiprahnya dalam penanganan berbagai bencana di Indonesia.

Seperti yang terjadi pada Januari-Februari 2018 di antaranya KLB Campak dan Gizi Buruk di Kabupaten Asmat, Gempa Bumi di Banten, Tanah Longsor di Bogor, Erupsi Gunung Sinabung, Banjir di Cirebon, Tanah Longsor dan Banjir di Brebes, serta tanah longsor dan banjir di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Hingga Maret 2018, jumlah personil TAGANA sebanyak 37.817 orang dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Di akhir arahannya, Mensos berpesan TAGANA senantiasa menjadi garda terdepan dalam memberikan layanan bagi masyarakat terdampak bencana.

“Pastikan satu jam setelah bencana, TAGANA telah hadir di lokasi dan memberi pertolongan kepada korban bencana. Dirgahayu TAGANA Indonesia, semoga Allah SWT memberikan keberkahan dalam perjuangan kita,” tegasnya. (sak)

Bagikan artikel ini