Taka, Streetwear Lokal Kualitas Global
KOMUNITAS PERISTIWA

Taka, Streetwear Lokal Kualitas Global

Salah satu yang ada di Paviliun Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) selama pelaksanaan Asian Festival 2018 lalu adalah booth What We Wear di Zona Kaka, Gelora Bung Karno (GBK).

Sebagai satu-satunya paviliun yang menjual merchandise Asian Games 2018 diluar official store yang disediakan panitia, booth ini mencuri perhatian pengunjung. Ada 6 brand yang turut berpartisipasi, yaitu Taka, Public Culture, Run Hood Futurama, Maris, Danjyo Hyoji, dan Volt and Fast.

“Respon pengunjung sangat baik sekali ya, beberapa ada yang sudah re-stock karena antusias para pembeli, produk-produk ini memang unik,” ujar Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak.

Eduardus, salah satu pemilik Taka yang produknya ikut berpartisipasi di booth What We Wear ini mengatakan hingga hari ini produknya sudah terjual hingga 45 pcs.

“Para pengunjung sangat antusias, mereka awalnya melihat-lihat lalu membeli. Karakter mereka biasanya baru tertarik dengan produk kami saat melihat dan menyentuh langsung,” ujarnya.

Ia menjelaskan usahanya ini didirikan tahun 2013, saat masih dibangku kuliah semester 3. “Karena dulu bidang usaha yang paling mudah dilakukan sembari kuliah adalah industri pakaian, kami pakai uang sendiri,” katanya. Ia menceritakan dengan modal awal hanya Rp 8 juta kini sudah bisa menghasilkan kurang lebih Rp 60 juta per bulannya.

Eduardus menambahkan, untuk kemeja dijual dengan harga Rp 280 – 380 ribu, luaran dan jaket dijual dengan harga Rp 380 – 600 ribu, celana dijual dengan harga Rp 480 – 550 ribu, sedangkan untuk asesoris dijual dengan harga Rp 350 – 550 ribu.

“Pakaian basic menswear biasanya hanya dipakai untuk keperluan yang formal seperti ke kampus, ke kantor, rapat, dan sebagainya. Namun kami menjual pakaian basic menswear yang dapat dipakai di berbagai aktivitas, sekalipun berkeringat, kami memfokuskan pada efisiensi dari pakaian kami,” jelasnya.

Produk yang mereka produksi memiliki target laki-laki mulai dari anak SMA, anak kuliahan, dan first graduate, tetapi yang membeli sangat beragam bahkan orang tua dan para wanita. Proses pengerjaan tergantung kuantitas produk yang dibuat, biasanya mereka memerlukan waktu 1-2 minggu.

Untuk memasarkan produknya berbagai cara pun dilakukan, seperti mengikuti event, endorsement, membuat bundling price dan membuat konten (foto Produk, foto Lookbook, foto Editorial dan Video).

“Dikerjakan sebaik-baiknya, karena kami Taka sebagai produk lokal Indonesia bisa membuat dan mempresentasikannya dengan kualitas Internasional,” tambahnya. Saat ini, Taka memiliki outlet online, sementara untuk offline dititip di berbagai gerai pakaian yang cukup terkenal dikalangan generasi muda.

“Kami sangat senang dengan adanya Bekraf mendukung industri pakaian lokal, terutama di acara Asian Games yang menjadi wajah Indonesia, kami sangat senang diberikan kesempatan untuk tampil di acara ini,” jelasnya. Ia pun berharap dapat bekerjasama lebih lanjut dengan Bekraf agar dapat memajukan industri kreatif Indonesia bersama-sama. (sak)