Tamasya Energi Hibrida di Daerah Istimewa

Tamasya Energi Hibrida di Daerah Istimewa

Pengembangan energi baru terbarukan bukan hanya mewujudkan cita-cita energi berkeadilan, melainkan juga membuka potensi wisata dan punya peran edukasi.

Pantai Baru Pandansimo, Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Srandakan, Bantul, telah berubah. Pantai sejauh 33 kilometer dari pusat kota Yogyakarta itusemula kumuh, kotor, dan identik sebagai lokasi mesum. Maklum saja, pasokan listrik memang kurang di daerah ini.”Dulu sini gelap seperti hutan,” ujar Jumali, 64 tahun, warga setempat.

Namun kini pantai itu asri dan teduh dengan deretan pohon cemara. Debur ombak dan panorama di cakrawala Laut Selatan bisa dinikmati sambil menyantap kuliner khas ikan laut diwarung-warung lesehan di sana.Sebuah tugu dengan patung harimau dan ikan hiu, sebagai simbol pantai ini, didirikan. Akhir pekan lalu, seperti hari libur lain, pantai ini ramai wisatawan.

Nama baru pantai itu pun telah tertabal di tugu tersebut:Pantai Baru. Tak kalah unik dan menarik perhatian pantai tersebut dihiasibelasan menara kincir yang menjulang dengan tiga bilah baling-baling yang tak henti berputar. Di sisi utara pantai juga terbentang panel-panel surya. Inilah proyek energi baru berupa pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) Pantai Baru.

Listrik dari surya dan bayu itu turut menopang kebutuhan energidi sekitar pantai. Pantai Baru dan PLTH berada di kawasan 17 hektar. Atas suara warga yang ingin mendapat pasokan listrik, serangkaian upaya kerjasama lintas institusi, baik kementerian dan lembaga, kampus, maupun swasta, mampu mengembangkan tahap demi tahap PLTH.

Pembangunan PLTH dimulai pada 27 Juni 2010 dan diresmikan medio tahun berikutnya. Instalasi inisanggup memproduksi daya sekitar 90kilowatt yang disuplai dari kincir dan panel surya.

Kincir angin menyumbang 56 kilowatt. Ada 34 unit kincir dengan sumbangan daya 4-10 kilowatt. Tinggi menara 10-18 meterdengan tiga bilah yang berdiameter 150 centimeter sampai 8 meter. Putarannya 300-600 kali tiap menit. Teknologinya mengadopsi teknologi generator dan baling-baling dari Cina, Belanda, dan Jerman.

Untuk memutar baling-baling sampai menghasilkan listrik diperlukan angin minimal 4meter per detik. Generator kincir melalui tiga fase AC yangdilengkapi sistem kontrol dan penyearah. Setelah itu, daya masuk ke bank baterailalu diubah jadi DC dengan inverter.

Namun kemampuan kincirbelum mampu beroperasi secara penuh dan kontinyu selama 24 jam. Saat ini, optimalisasi baru mencapai 30 %.Sebab kekuatan angin tak tentu. Kadang bertiup sampai 5meter per detik,namun hanya 3-4 jam. Baru pada bulan tertentu, seperti Januari, angin berembus kencang, 10-12 meter per detik, bahkanhingga 16 m/detik.

Meski kincir berputar 24 jam, penghasil daya yang lebih kontinyu di PLTH adalahpanel surya. PLTH ini memiliki 238 moduldengan daya 100 – 200 watt dan optimalisasi hingga 80%. Perawatan panel surya juga lebih mudah daripada kincir angin. Ketimbang kincir pula, modul panel surya masih dalam kondisi prima dan berfungsi optimal.

Energi dari angin dan sinar matahari disimpan dalam 160 bateraiaki. Masing-masing baterai berkekuatan 12 volt dan 105Ah. Total penyimpanan energi 4260 Ah. Total kebutuhannya listrik tercatat 22,5 kilowatt.

Pasokan daya itu lalu dibagi ke warga. Selain untuk warung, juga untuk lampu jalan, kantor operator PLTH, dan mesin es. Ada sekitar 50 warung yang terpenuhi kebutuhan listriknya terutama untuk lampu dan alat masak. Kadang juga untuk menyalakan televisi dan sound systemuntuk menghiburpengunjung di warung.

Keberadaan PLTH pun mengangkat kondisi ekonomi warga. “Sejak ada PLTH saya ikut membuat warung. Pasokan dari PLTH300 watt cukup untuk listrik warung.Tarifnya juga murah, Rp 10-50 ribu per bulan,” kata Jumali.

Sayangnya kondisi dan kinerja instalasi PLTH ini belum maksimal. Kondisi alam turut memunculkan kendala teknis. Angin laut yang mengandung garam membuat korosi dan berkarat pada baling-baling dan chasing generator. Sejumlah bilah juga pernah patah. Komponen lain pun, seperti kumparan, tak luput bermasalah.

Selain itu, saat ini hanya sekitar dua pertiga kincir yang berputar dan mampu menyumbang listrik. “Kincirnya tidak rusak. Masalahnya pada baterai penyimpanan dan inverter yang saling berkaitan,” ujar operator PLTH Pantai Baru, Murjito.

Jika input energi dari kincir besar, sementara output daya kecil, baterai dan inverter justru bisa rusak. Jika inverter rusak, seperti beberapa tahun silam saattersambar petir, suplai listrik bisa tak ada sama sekali. Untuk itu, operator berupaya menjaga agar spesifikasi teknis PLTH berfungsi dengan baik atas fluktuasi pasokan energi dan kondisi alam.

Bukan hanya sisi teknis, aspek pengelolaan pembangkit listrik tenaga hibrida ini juga mesti dioptimalkan. Setelah di bawah Kementerian Riset dan Teknologipada 2010-2014, lalu berganti ke Pemkab Bantul hingga 2016, PLTH Pantai Baru kini di bawah Kementerian Enersi Sumber Daya dan Mineral (ESDM).

Di bawah Kementerian ESDM, PLTH Pantai Baru tentu diharapkan bisa berkembang lebih jauh lagi dan dalam upaya menyukseskan program energi berkeadilan, terutama di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Perawatan dan perbaikan menyeluruh, bahkan upgrade peranti dan teknologi mutlak diperlukan untuk mengembangkan PLTH Pandansimo.

Jika dikembangkan, PLTH Pantai Baru akan turut menyumbang target bauran energi. Untuk energi bayu misalnya, sesuai data Kementerian ESDM hingga Mei 2017, kapasitas yang beroperasi baru 1,1 megawatt atau sekira 0,002% dari potensi 60,6 gigawatt.

Potensi PLTH Pantai Baru sebenarnya membuat investor melirik pengembangan energi baru di sepanjang pantai selatan DI Yogyakarta. UPC Renewables, perusahaan Amerika Serikat, berencana mendirikan pembangkit listrik tenagabayu (PLTB). Sayangnya, proyek yang digadang-gadang sebagai PLTB terbesar di Indonesia ini batal dan UPC memindahnya ke Sidrap, Sulawesi Selatan.

“Ada tiga syarat kami, yaitu selesainya perizinan, adanya analisis mengenai dampak lingkungan, dan pembebasan lahan.Hingga deadline, kami belum bisa melengkapi syarat-syarat ini terutama izin lahan,” ujar Nico Priyambada, manajer PT UPC Renewables Indonesia, Selasa (5/9) lalu.

Di samping potensi energi baru, Pemda DI Yogyakarta juga melihat peluang ekowisata di Pantai Baru. “Kalau arahnya wisata, misalnya membangun lima kincir angin, kami sangat terbuka,” kata Sekretaris Daerah DI Yogyakarta Gatot Saptadi.

Selama ini, Pantai Baru memang telah menjadi primadona baru wisata pesisir Bantul dan DI Yogyakarta. Bukan hanya pemandangan alam wilayah pesisir, melainkan menara-menara kincir turut menarik pengunjung sebagai tujuan wisata, bahkan studi energi, atau sekadar selfie. Tak heran, jika sebelum ada PLTH pada 2010 retribusi tercatat hanya Rp25 juta,kini angka pemasukan daerah dari Pantan Baru mencapai Rp120 juta per tahun.

Keberadaan PLTH juga membuat warga desa mulai peduli pada isu lingkungan. Mereka memberdayakan diri dengan menjaga dan belajar tentang kinerja PLTH secara swadaya. Mereka pun membuka bengkel kerja tentang pemanfaatan energi baru. Beberapa waktu lalu, juga digelar lomba kincir angin dan peringatan hari bumi di Pantai Baru.

Tak salah jika dari PLTH Pantai Baru menjadi inspirasi bagi upaya penyediaan energi baru terbarukan yang sanggup menunjang program energi berkeadilan hingga mengangkat taraf ekonomi dari sektor wisata sekaligus memanfaatkan aspek edukasinya.

Harapannya, tentu saja, program ini terus dikembangkan demi memenuhi target kontribusi energi baru terbarukan. “Pada 2015, sumbangan energi baru terbarukan baru 5% untuk energi nasional. Nanti di 2025, ditargetkan mencapai 23%,” ujar Menteri ESDM Ignasius Jonan, kepada Majalah Gatra, Mei silam. (Arif Koes Hernawan/Majalah Gatra -Pemenang Pertama Lomba Karya Jurnalistik ESDM 2017)

Bagikan artikel ini