Tantangan Kriminologi di Era Digital

Tantangan Kriminologi di Era Digital

Era digital seperti saat ini bukan hanya mengubah arus informasi dan komunikasi, tetapi juga berbagai bentuk kejahatan. Kini, bentuk kriminalitas pun semakin kompleks dan menyusup dalam ranah teknologi.

Fenomena tersebut dibahas oleh Aditia Dwi Laksono dalam Diskusi Inisiasi Riset Kriminologi “Criminology Resarch Day: Bridging Research & Industry” beberapa waktu lalu di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus UI Depok.

Alumnus Kriminologi UI yang sekarang menjabat Manager of Intelligence, Investigation, & Fraud Prevention Garuda Indonesia, misalnya, mengungkap bahwa bentuk kriminalitas di dunia aviasi pun kian berkembang.

“Kita tidak lagi hanya bicara tentang barang yang dibawa penumpang, melainkan juga antisipasi terhadap penumpang yang dapat naik pesawat tanpa terlacak,” sebutnya.

Persoalan teknologi informasi memang menuntut keamanan data yang sangat ketat. Jelang Pemilu 2019, persoalan big data dan pengawalan suara pemilu juga amat krusial.

Terlebih, Komisi Pemilihan Umum (KPU) kini juga memakai internet sebagai sarana rekapitulasi hasil perhitungan suara. Maman Suherman, jurnalis sekaligus aktivis sosial yang juga alumnus Kriminologi UI menyoroti betul perihal ini. Ia pun menekankan bahwa lulusan-lulusan kriminologi mesti banyak ambil peran dalam mengawal suara.

“Pemilu dapat mengadopsi artificial intelligence sebagai sarana pengamanan,” tuturnya. Maman pun menerangkan, sektor tersebut bahkan bisa menjadi lahan bisnis baru yang solutif sekaligus menguntungkan.

“Empat ratus pemilihan kepala daerah terjadi tiap tahun, tetapi yang mengambil bisnis pengamanan data bukan lulusan kriminologi,” tukasnya.

Bahkan, Maman juga membeberkan jenis bisnis yang tengah berkembang di era digital jelang tahun politik, yakni jasa buzzer media sosial yang akan menerbitkan konten bernada provokasi. Jasa ini semakin marak, sebab semakin viral kontenprovokasi, maka popularitassi buzzer juga kian melambung.

Di luar itu, Iqrak Sulihin Kepala Departemen Kriminologi FISIP UI menggarisbawahi belum adanya kesatuan data tentang kriminalitas di dalam negeri. Hal ini, lanjutnya, menyebabkan kebijakan peradilan dalam negeri kerap tidak berdasarkan data.

Menilik tantangan zaman yang dihadapi kriminologi, Iqrak mengaku saat ini Departemen Kriminologi FISIP UI terus menggodok penyesuaian kurikulum.

Rencananya, kurikulum yang baru akan mengakomodasi kerja sama dengan perusahaan yang bergerak dalam bidang investigasi. Unsur-unsur revolusi industri 4.0.pun akan mewarnai mata kuliah. (sak)

Bagikan artikel ini