Tari Seblang Olehsari Simbol Dewi Kesuburan

Tari Seblang Olehsari Simbol Dewi Kesuburan

Kabupaten Banyuwangi merupakan saksi bisu kejayaan bumi Blambangan yang terkenal dengan kesuburan tanah dan hasil bumi yang berlimpah.

Namun setelah ditelusuri berdasarkan data ketersediaan pangan di Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, dari 24 kecamatan yang ada, terdapat dua kecamatan yang masuk dalam status waspada rawan pangan, yaitu: Kecamatan Kalibaru dan Kecamatan Glagah, yang rasio ketersediaan pangannya hanya berkisar 1,5% dari total kebutuhan.

Disisi lain, Banyuwangi dikenal sebagai daerah pariwisata dengan tradisi yang melimpah. Salah satu tradisi adat yang masih dipegang teguh dan dijaga kelestariannya adalah Tradisi Seblang. Berdasarkan pada lokasinya, Seblang dibagi menjadi dua jenis, Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Keduanya masuk wilayah Kecamatan Glagah.

Seblang Olehsari diperankan oleh penari yang masih muda (remaja putri), sedangkan Seblang Bakungan diperankan oleh penari wanita yang sudah menginjak usia lanjut. Tradisi Seblang Olehsari merupakan tradisi yang berasal dari leluhur sebagai manifestasi rasa syukur atas hilangnya wabah pageblug di Desa Olehsari.

Pageblug dimaknai sebagai kejadian wabah penyakit diare dan muntah ganas. Adanya pageblug itu menjadikan pagi sakit, sore meninggal. Atau sore sakit, pagi meninggal. Selain itu juga gagal panen akibat serangan hama pertanian sehingga ketiadaan bahan pangan. Kondisi ini terjadi sekitar tahun 1930-an.

Kisah demikian menarik perhatian mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) untuk meneliti tradisi ini yang memiliki potensi sebagai wadah intervensi pencegahan kerawanan pangan.

Tetapi seiring modernisasi zaman, dimungkinkan terjadi perbedaan cara pandang antara generasi dahulu dan sekarang terhadap makna tradisi Seblang Olehsari, untuk itulah dibutuhkan penelitian awal untuk menentukan langkah intervensi yang tepat.

Dengan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH), Tim Prodi Kesehatan Masyarakat PSDKU Unair di Banyuwangi, berhasil menyusun penelitian berjudul “Studi Perubahan Cara Pandang Antargenerasi Masyarakat Olehsari dalam Melihat Tradisi Seblang Sebagai Upaya Pencegahan Kerawanan Pangan: Studi Awal Untuk Merancang Intervensi”.

Proposal tim yang diketuai Meirina Hapsah dengan anggota Siti Mufaidah dan Inriza Yuliandari ini berhasil lolos dan memperoleh pendanaan Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

“Seblang konon disingkat dari kata pating dan geblug yang berarti ‘banyak jatuh’. Tradisi ini merupakan bentuk upaya tradisional yang dilakukan masyarakat Desa Olehsari untuk mencegah terulangnya wabah pageblug tersebut,” ujar Meirina Hapsah, ketua Tim PKM-PSH dari PSDKU.

Tradisi Seblang Olehsari sudah ada sebelum kerajaan Blambangan, yang sebelumnya bernama Sahyangwidari sebagai tradisi umat Hindu dalam melambangkan kesuburan, kemudian dikembangkan oleh Wali Songo menjadi tradisi bernama Seblang di Olehsari. Dan putri sayu, Wiwit, pahlawan Blambangan, selalu menari Seblang sebelum mengawali perang.

Penari Seblang Olehsari ini diwariskan turun temurun dari garis keturunan Ibu, ditunjuk oleh roh leluhur dan menari dalam keadaan tidak sadar (Trans) selama 7 hari di bulan Syawal.

Sebelum digelar Tradisi Seblang Olehsari, keluarga penari mengadakan selamatan dengan member sesaji di empat penjuru untuk mengundang leluhur agar hadir dalam perayaan Tradisi Seblang Olehsari. Gendhing musiknya menceritakan sejarah kerajaan Blambangan.

“Payung agung pada Tradisi Seblang Olehsari menggambarkan kebanggaan identitas, meskipun masyarakat (suku) Osing sudah tergeser ke gunung-gunung, namun masih berkuasa di bumi Blambangan,” tambah Meirina.

Kaitannya dengan kerawanan pangan, penari Seblang Olehsari merupakan penggambaran “Dewi Kesuburan” bagi masyarakat Desa Olehsari. Dalam kepercayaan mereka, dengan dilaksanakan tradisi seblang ini dapat memberikan rasa aman, keselamatan, perlindungan, kesehatan, rejeki, kesuburan dan hasil panen yang melimpah.

Dalam gendhing Tradisi Seblang Olehsari terdapat anjuran untuk bercocok tanam, digambarkan melalui lirik ”Lare angon, gumuk iku paculono, sun tanduri kacang lanjaran” yang artinya “Para penggembala, cangkullah bukit itu. Akan aku tanami kacang panjang (lanjaran).”

Parabungkil merupakan salah satu syarat yang harus ada dalam Tradisi Seblang Olehsari untuk menggambarkan hasil pertanian disana. Parabungkil itu terdiri dari berbagai macam buah, sayur dan ubi-ubian yang menggambarkan keanekaragaman pangan di desa Olehsari.

Kemudian juga Kembang mongso merupakan bagian dari kembang dirmo pada Tradisi Seblang Olehsari. Mongso artinya musim yang menggambarkan adanya anjuran untuk membaca musim sebelum bertani. “Studi ini masih akan berlanjut pada penelitian kuantitatif,” tambah Meirina. (ita)

Bagikan artikel ini