The Gade Coffee & Gold PT Pegadaian

The Gade Coffee & Gold PT Pegadaian

PT Pegadaian (Persero) akhirnya membuka The Gade Coffee & Gold di Kantor Pusat Pegadaian, Jalan Kramat Raya, Kenari, Jakarta Pusat setelah membuka 18 gerai di seluruh Indonesia.

Peluncuran The Gade Coffee & Gold merupakan upaya Pegadaian untuk terus melakukan inovasi dalam memenuhi kebutuhan gaya hidup anak muda yang mendominasi segmen nasabahnya.

“Kami terus mendekatkan diri dengan nasabah muda berusia produktif di berbagai kota di Indonesia, melalui The Gade Coffee & Gold. Ini merupakan gerai The Gade Coffee & Gold ke-19 dan telah beroperasi,” kata Dirut PT Pegadaian Sunarso di Jakarta, Rabu (7/11)

Sunarso menjelaskan terdapat puluhan outlet lainnya yang sedang dalam proses pembangunan dan direncanakan akhir tahun sudah bisa beroperasi semua melayani seluruh provinsi di seluruh Indonesia.
“Kami menargetkan pada tahun 2018 nasabah Pegadaian naik 2,5 juta orang. Jika tahun 2017 kami melayani sebanyak 9,5 juta maka tahun 2018 meningkat menjadi 11,5 juta orang.”

Dia menambahkan bahwa tahun 2018 Pegadaian menargetkan mendapat 2 juta nasabah dari usia milenial menjadi nasabah aktif. The Gade Coffee & Gold hadir di Jakarta yang berlokasi di Kantor Pusat Pegadaian diharapkan dapat mengajak anak-anak muda dan semua karyawan Pegadaian yang belum menjadi nasabah, agar tidak sungkan lagi menjadi nasabah Pegadaian.

“Kami ingin memperkenalkan berbagai produk yang bisa digunakan segmen muda, termasuk Gadai Prima atau Pinjaman tanpa bunga,” tambah Sunarso.

Sebagai informasi, Gadai Prima merupakan program Pegadaian dengan bunga nol persen untuk satu barang. Barang-barang yang digadaikan pun semakin diperluas jenisnya.

Yang terbaru Pegadaian menerima gadai Tupperware yang menurut sektor ibu rumah tangga adalah salah satu barang yang bernilai. Nilai gadai yang diajukan pun bisa mencapai Rp 500 ribu dengan tenor dua bulan dan bisa diperpanjang satu kali.

Pegadaian terus berupaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat dengan mengoptimalkan gudang yang dimiliki dengan menerima barang-barang non emas.

Kebijakan mengenai jenis barang yang diterima sebagai jaminan gadai diserahkan kepada pemimpin wilayah dengan mempertimbangkan nilai ekonomis dan kondisi/minat masyarakat setempat.

Oleh karenanya bisa terjadi perbedaan jenis barang di wilayah berbeda. Pinwil menetapkan Harga Pasar Setempat sebagai dasar penentuan pinjaman gadai di wilayah operasionalnya. (sak)

Bagikan artikel ini