Tongkat Pintar Stikom Bantu Tunanetra

Tongkat Pintar Stikom Bantu Tunanetra

Penyandang tunanetra kini dapat mengetahui adanya benda atau jalan rusak guna dihindari saat berjalan. Ini setelah seorang mahasiswa jurusan Sistem Komputer Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Moh Nur Bimantoro, membuat tongkat pintar.

Tongkat yang diperuntukkan bagi penyandang tuna netra tersebut berbasis mikrokontroler dengan menggunakan dua sensor ultrasonik dimana sensor bagian atas dengan mudah mendeteksi benda yang ada di sekitar.

Nur Bimantoro mengatakan, pembuatan tongkat ini diperuntukkan bagi penderita gangguan penglihatan (tunanetra) baik yang masih mempunyai sisa penglihatan (low vision) atau pun yang sudah buta total (total blind).

“Pada umumnya tunanetra menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan garis merah horizontal di bagian bawahnya untuk membantu berjalan. Akan tetapi dengan tongkat ini ruang gerak tuna netra masih sangat terbatas dan tidak leluasa karena untuk mengetahui adanya benda harus dengan cara mengetuk-ngetukkan tongkat di sekitar pijakan saat berjalan,” katanya di kampus Stikom, pekan lalu.

Menurutnya, tongkat tunanetra ini sudah mulai menggunakan sensor ultrasonik, dimana sebuah sensor diletakkan pada depan tongkat untuk mendeteksi benda sekitar. Akan tetapi dengan sebuah sensor tentu kurang efektif bagi pengguna yang berjalan di atas permukaan dimana terdapat lubang ataupun gonjalan batu dan semacamnya.

“Untuk sensor bagian bawah diharapkan dapat mudah mendeteksi permukaan yang tidak rata seperti batu ataupun lubang disekitar pengguna. Tongkat ini dilengkapi dengan alarm sebagai tanda peringatan untuk berjalan menghindari benda-benda tersebut sehingga ruang gerak tunanetra lebih luas dan memudahkan mereka untuk melakukan segala aktivitasnya,” urainya.

Dua buah sensor Ultrasonik juga digunakan untuk mengukur jarak antara tongkat dengan benda padat yang ada di depannya. Sensor ultrasonik akan mengeluarkan suara yang kemudian pantulannya akan mempresentasikan jarak.

Sensor atas ditujukan untuk dapat mendeteksi benda yang relatif tinggi sedangkan sensor bawah ditujukan untuk dapat mendeteksi benda berupa gundukan atau lubang. Dalam sistem ini, sensor ultrasonik mengeluarkan suara yang kemudian akan terpantul jika mengenai benda padat dan diterima oleh receiver. Sinyal ultrasonik kemudian akan masuk ke ATMEGA32.

“Dari ATMEGA32 sinyal utrasonik diolah menjadi jarak dengan satuan centimeter. Setelah jarak dalam satuan centimeter sudah didapat maka dilakukan penentuan jarak untuk memberikan informasi berupa suara melalui buzzer kepada pemakai tongkat pintar tersebut,” papar dia. (sak)

Bagikan artikel ini