Tradisi Nyethe Kopi Dibawah Gunung Wilis

Tradisi Nyethe Kopi Dibawah Gunung Wilis

Di Tulungagung, yang namanya ngopi dan nyethe adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Nyethe adalah mengoleskan endapan kopi ke rokok. Kopi untuk nyethe disebut dengan kopi cethe. Di Tulungagung, warung yang menawarkan menu kopi cethe ini banyak sekali, sehingga Tulungagung juga terkenal dengan kota warung kopi cethe.

Sejarah nyethe bermula saat para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk sekedar ngobrol maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka.

Sambil ngopi dan mengobrol, sesekali rokok yang dihisap diolesi endapan kopi yang ada di cawan. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol di warung kopi.

Kopi untuk nyethe memakai bubuk kopi yang halus. Untuk merekatkan ke rokok, ditambah sedikit susu cair. Motifnya macam–macam, mulai sulur, tulisan, tribal bahkan tokoh pewayangan juga bisa dicethe di rokok. Sehingga nyethe bisa juga disebut batik rokok.

Tradisi unik ngopi cethe dan nyethe itu juga ditangkap Omah Kopi, di Dusun Surenpaten, Desa Balerejo, Tulungagung. Pemiliknya Sutrimo dan istrinya menginisiasi untuk membudidayakan kopi Gunung Wilis. Langkah ini kemudian diikuti beberapa petani tetangga mereka.

Produk kopi Gunung Wilis jenis arabica mereka itu kemudian diolah pengusaha Kurnia Ika Kusuma dengan mendirikan Pabrik Kopi Lintang. Sekaligus mendirikan Omah Kopi untuk pemasarannya. Upaya mengendalikan hulu hingga hilir oleh komunitas ini menghadapi kendala karena meski sudah didampangi konsultan dari BI Kediri Mas’ud Asjari.

“Produktifitas kopi para petani rendah, padahal harga dan permintaan selalu naik. Sayang banget kan?” kata anggota DPR RI Eva Sundari, saat menikmati kopi di Omah Kopi, Jumat (3/3). Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu memang dikenal sebagai penikmat kopi. Apalagi undangan ngopi itu berbarengan dengan masa reses di bulan Maret 2017.

Selain ingin mendapat pendampingan, komunitas yang digagas Sutrimo juga ingin mengajak petani-petani di lima kabupaten lainnya di lereng Gunung Wilis, yaitu Kediri, Nganjuk, Blitar, Madiun, Trengalek untuk bergabung dalam bisnis kopi ini. “Peluang kopi amat menjanjikan, ada prediksi international yang menyatakan akan ada kelangkaan kopi dunia tahun 2025,” ujar Eva Sundari menyambut baik,

Kopi Gunung Wilis memiliki banyak faktor unggulan untuk branding. Misal ada tata cara khas minum kopi ini yaitu Kopi Gigit, dimana gula kelapa digigit sebelum menyeruput kopi.

Keistimewaan yang lain kopi Gunung Wlis ini adalah, endapan kopinya yang bisa untuk nyethe. Kuasnya bisa silet, benang atau batang korek korek api yang dilancipkan setelah dibakar. Selain batang rokok, seni lukis cethe juga bisa dipakai untuk melukis botol maupun di atas kain kanvas biasa.

Menutup diskusi dengan komunitas kopi tersebut, Eva Sundari menyarankan untuk membentuk organisasi untuk memperjuangkan aspirasi mereka yaitu koperasi. “Selain koperasi adalah amanat konstitusi, koperasi juga terbukti bisa ekspansi di luar negeri seperti Anlene, Carefur, atau Bank ABN AMRO dll,” pungka anggota Komisi XI dari Dapil Jatim 6 ini. (sak)

Bagikan artikel ini