Tradisi Mapag Toya di Bantul

Tradisi Mapag Toya di Bantul

Di bawah guyuran hujan, ratusan warga berbondong-bondong mendatangi Embung Potorono, Banguntapan, Bantul. Pasalnya, di lokasi tersebut telah diadakan peringatan Hari Air Dunia yang sekaligus perayaan ulang tahun ke-5 Gerakan Irigasi Bersih (GIB) Merti Tirto Amartani.

Memperingati dua agenda tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak dengan Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan budaya Mapag Toya. Acara yang dilaksanakan pada akhir pekan lalu tersebut dihadiri beberapa perwakilan dari instansi pemerintah dan UGM.

Mapag Toya merupakan tradisi mengambil air dari Sungai Tambak Boyo yang membelah Desa Potorono. Air sebagai simbol dari kehidupan tersebut kemudian diambil dan ditampung dalam beberapa kendi.

Sebelum melakukan tradisi itu, iring-iringan warga yang mengendarai bendi serta membawa tiga gunungan hasil bumi dan jajanan pasar diarak mengelilingi desa dan berakhir di Embung Potorono. Sontak karnaval ini mengundang antusiasme tersendiri bagi warga Desa Potorono dan sekitarnya.

Dr Murtiningrum selaku Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM menyampaikan dukungannya atas terus berlangsungnya GIB hingga tahun kelima ini.

Ia menuturkan bahwa FTP UGM sangat mendukung adanya GIB sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kualitas sumber daya air hingga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia.

“Air adalah pemberian Tuhan sehingga harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat, khususnya untuk pertanian,” ungkap Murtiningrum.

Sementara Lurah Desa Potorono Prawata mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Mapag Toya. Ia berharap kegiatan ini dapat mengajarkan kepada warga untuk menjaga kebersihan sungai. “Semoga dengan adanya kegiatan GIB, petani dan pengguna air lainnya dapat lancar menggunakan air karena sungai-sungai telah bersih,” tutur Prawata. (sak)

Bagikan artikel ini