Unair Kukuhkan Tiga Guru Besar Lagi

Unair Kukuhkan Tiga Guru Besar Lagi

Tiga guru besar (gubes) baru Universitas Airlangga resmi dikukuhkan Rektor Unair. Mereka terdiri atas dua gubes berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan satu dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Mereka adalah Prof Dr Chiquita Prahasanti Sulistiowati drg Sp Perio (K) guru besar bidang periodensia FKG, Prof Dr H Soegeng Wahluyo drg MKes Sp KGA (K) guru besar bidang kedokteran gigi anak FKG dan Prof Dr Basuki MCom (Hons) PhD Ak CA CMA guru besar bidang akuntansi FEB.

Ketiga gubes dikukuhkan Rektor Unair Prof Dr Muhammad Nasih SE MT AK CMA di Aula Garuda Mukti, Lantai 4, Rektorat Unair, Sabtu (28/7) lalu.

Atas pengukuhan itu, kini Unair memiliki guru besar aktif berjumlah 186 orang atau tercatat mempunyai 474 orang sejak Unair didirikan.

Dalam sambutannya, Prof Nasih mengingatkan akan tanggung jawab dan pengabdian kepada negara bagi ketiga gubes. Pengukuhan gubes menjadi momen memantabkan tekad untuk mengabdikan diri pada karya nyata kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

”Tentu, kita berharap penelitian dan riset tahun depan akan dapat meningkat. Publikasinya juga akan meningkat,” ungkapnya.

Pengukuhan itu, lanjut Prof Nasih, diharapkan mampu menambah energi Unair untuk terus berkembang. Dan, pada akhirnya, effort, upaya, Unair mampu kian bergerak dengan cepat.

Selain itu, Prof Nasih menambahkan bahwa atas pengukuhan tersebut, ketiga gubes diharapkan terus meningkatkan upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Terutama di bidang ilmu kedokteran gigi dan akuntansi.

Yang pada akhirnya ketiga gubes mampu memberikan kontribusi nyata terhadap almamater, juga Indonesia. ”Tanggung jawab itu adalah menghadirkan masa depan pada hari ini,” ucapnya.

”Dan, kita mesti menyadari atas kelimpahan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Itulah yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memanfaatkan dan mengoptimalkannya seperti pemikiran yang disampaikan oleh ketiga gubes,” imbuhnya.

Pemikiran Gubes
Menyampaikan pidato pengukuhan pertama, Prof Dr Chiquita memberikan paparan mengenai inovasi tissue engineering sebagai harapan masa depan mengatasi permasalahan penderita dengan periodontitis agresif. Tissue engineering, lanjut dia, sangat menjanjikan untuk rekontruksi secara biologis, mengacu pada kemajuan bidang terapi operasi.

Prof Chiquita menyampaikan, pendekatan tissue engineering yang berbasis stem cell diharapkan dapat dipakai untuk memperbaiki kerusakan pada jaringan periodontal, infeksi gusi yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi, sehingga didapatkan hasil yang lebih baik.

”Berdasar penelitian saya, banyak potensi alam Indonesia yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk melahirkan bahan bermanfaat dalam tissue engineering,” sebutnya.

Sama-sama dari FKG, dalam pidato kedua, Prof Soegeng menekankan agar orang tua meningkatkan kewaspadaan terhadap pemakaian pasta gigi untuk anak.

Pemakaian fluorida yang merupakan salah satu bahan utama pembuatan pasta gigi secara berlebihan dapat menggangu pertumbuhan gigi pada anak. Ia pun menganjurkan orang tua hanya memberikan pasta gigi pada anak sebesar kacang polong.

”Pemberian (pasta gigi, Red) hanya sebesar kacang polong. Pemberian banyak katanya biar bersih, itu keliru,” terang Prof Soegeng.

”Fluorida yang dikomsumsi berhari-hari tidak disadari. Salah satu dampaknya fluorosis, gangguan pertumbuhan pada enamel gigi, meliputi bentuk, kualitas, juga dimensinya,” tambah Prof Soegeng.

Sementara itu, pada pidato yang ketiga, Prof Basuki menyampaikan pemikirannya soal perlunya akuntansi merambah pada bidang sosial kemsyarakatan. Terutama turut terlibat dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.

”Apa yang kita pahami selama ini, akuntansi bertujuan untuk mencatat dan melaporkan transaksi keuangan berdasar pada aturan tertentu,” ujarnya.

Orientasi akuntansi yang dipahami kebanyakan orang selama ini, menurut Prof. Basuki, hanya berkutat pada kepentingan kapitalis. Kepentingan kepada pemilik modal. Namun, lanjut dia, zaman telah berubah.

Bukan masanya lagi akuntansi hanya mengurusi debit-kredit, hanya melayani pemilik modal dan mengabaikan hal-hal di luar yang lebih besar. ”Seperti kasus-kasus yang berhubungan dengan kerusakan dan pencemaran alam karena perusahaan berlebihan,” ucapnya.

Caranya, adanya penenaman nilai atau value kepada akuntan untuk turut memikirkan keadaan sosial. Mengakuntansikan dampak dan efek dari sebuah aktivitas ekonomi di masyarakat, khususnya perusahaan. Terutama dampak-dampak negatif. (ita)

Bagikan artikel ini