Universitas Airlangga Gelar Workshop Kembangkan Riset Stem Cell

Universitas Airlangga Gelar Workshop Kembangkan Riset Stem Cell

Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair mengadakan workshop Stem Cell Batch XI dengan tema ‘Exploration and The Benefits of Stem Cell Degenerative Medicine’, pada Senin, (18/4).

Workshop yang digelar di gedung Institute of Tropical Disease (ITD) Unair ini bekerjasama dengan Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem Cell Surabaya, Bank Jaringan RSUD Dr Soetomo – FK Unair dan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) Surabaya.

Lokakarya ini diselenggarakan sebagai upaya memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pembuatan stem cell, untuk pengembangan riset terapi dan obat baru berbasis sel.

Kegiatan ini bertujuan mendidik SDM agar dapat diaplikasikan di institusi atau laboratorium tempatnya bekerja.

“Semoga kegiatan workshop ini dapat menginspirasi para peserta, khususnya di bidang akademik kesehatan,” ujar Dr Purwati dr SpPD FINASIM, selaku Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair.

Mengawali acara, pelopor penelitian dan pengembangan stem cell di Indonesia, Prof Dr Fedik A Rantam Drh, memberi penjelasan kepada para peserta bahwa stem cell atau disebut juga dengan sel punca adalah sel yang mempunyai kemampuan membelah diri (self renewal).

Sel tersebut juga dapat berubah menjadi berbagai tipe sel yang spesifik, sehingga dianggap dapat dijadikan pengganti dari sel-sel di dalam tubuh yang sudah rusak.

“Sel punca adalah sel yang belum berdeferensiasi. Melalui berbagai proses, sel punca itu nantinya berubah menjadi sel-sel tertentu,” ujar mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Fedik yang pernah menempuh pendidikan doktoral di Freie Universitat Berlin, menyoroti kualitas proses penelitian stem cell di Indonesia.

Pasalnya, Indonesia masih kalah dibandingkan negara lain seperti Jepang dan Korea yang telah melakukan berbagai penelitian mengenai stem cell. Salah satunya adalah penggunaan stem cell sebagai bahan untuk eksplorasi berbagai macam obat-obatan.

“Kita ketinggalan di sana, tidak bisa selesai penelitian kita. Ditengah penelitian ada saja rintangan yang membuat berhenti di tengah jalan. Jadi kita kalah unggul di penelitian stem cell,” ujar Prof Fedik yang kini juga menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair.

Selain kualitas penelitian, Prof Fedik juga menyayangkan kurangnya publikasi mengenai terapi stem cell di Indonesia. Walaupun Indonesia sudah memiliki terapi stem cell, namun banyak negara lain yang belum mengetahuinya.

Sehingga Indonesia masih kalah popularitas dibanding negara lain yang juga memiliki terapi stem cell. “Indonesia sudah punya terapi stem cell di Surabaya. Hanya saja belum dikenal oleh dunia karena publikasinya memang masih kurang,” pungkasnya. (it/foto pih unair)

Bagikan artikel ini