Usia Bukan Halangan Meraih Gelar
PROFIL

Usia Bukan Halangan Meraih Gelar

Wisuda ke-116 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melahirkan satu sosok spesial, Dr Ir Djoko Irawan MS namanya.

Bagaimana tidak, di usianya yang tidak muda lagi, Djoko, sapaan akrabnya masih mau belajar dan berhasil meraih gelar doktor Teknik Sipil sekaligus menjadikannya lulusan tertua di ITS.

Lantas apa rahasia Djoko sehingga berhasil lulus dari tingkat pendidikan tertinggi di usianya yang telah mencapai angka 58 tersebut?

Djoko mengaku rahasia sukses perjuangannya hanyalah ketekunan. Ia mengakui, faktor usia membuat ia tidak lagi mampu untuk belajar semalaman suntuk seperti kebiasaan mahasiswa saat ini. Namun ketekunan membantunya menutupi celah tersebut.

“Belajar itu tergantung diri sendiri, saya hanya mencoba tekun terhadap apa yang telah saya mulai,” terang Djoko kepada kru ITS Online.

Ketekunan dan kemampuan membagi waktu Djoko benar-benar diuji selama menjalani enam semester menempuh program doktor. Selain disibukkan dengan riset dan belajar, ia juga tetap harus menjalani kewajiban mengajar sebagai dosen dan membimbing tugas akhir.

Kesibukan itu bertambah lantaran harus melakukan pekerjaan tambahan sebagai konsultan dan membagi waktu untuk keluarga.

“Karena saya kuliah dengan biaya pribadi jadi tetap harus mencari pekerjaan tambahan, meskipun jumlahnya tidak sebanyak saat sebelum mengambil program doktor,” kenang mantan kepala Laboratorium Struktur Departemen Teknik Sipil tersebut.

Untuk mengatasi kesibukannya tersebut Djoko mencoba untuk benar-benar fokus dan komitmen terhadap pembagian waktu yang sudah ditetapkannya.

Waktu pagi sampai sore di kampus pun benar-benar ia manfaatkan untuk dapat menyelesaikan tugas dan risetnya sebagai mahasiswa doktor, serta untuk memenuhi kewajibannya sebagai tenaga pengajar.

Selain itu profesinya sebagai dosen diakui Djoko membuat ia tidak kesulitan saat harus belajar kembali, meskipun rentang waktu dengan program magisternya dulu berjarak sekitar 20 tahun. “Di sinilah keuntungannya mengajarkan orang lain, ilmunya akan terus diperbaiki sehingga tidak hilang,” ucapnya bijak.

Pada akhirnya ketekunan yang terus dibangun Djoko mengantarkannya lulus membawa nilai sempurna atau 4,0 dengan mengambil tema disertasi Plat Beton. Istimewanya lagi, meskipun sempat mengambil cuti satu semester akibat terkendala dana untuk riset, Djoko tetap mampu menjadi salah satu mahasiswa dengan kelulusan tercepat diantara rekan-rekannya yang jauh lebih muda.

Pria yang juga merupakan anggota band alumni-mahasiswa-dosen (Almados) ini pun saat ini sedang berusaha untuk mematenkan hasil disertasinya berupa plat beton persegi dan plat beton segitiga. Di samping itu ia sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar gelar guru besar, meskipun jarak usianya dengan batas akhir usia pengajuan guru besar sudah sangat dekat.

“Waktu saya sampai batas akhir pengajuan guru besar tinggal empat tahun lagi, saya akan berusaha semaksimal mungkin,” pungkasnya. (sak)